Selasa (09/09/2026), Wali Kota Salatiga, dr. Robby Hernawan, Sp.OG., didampingi Bunda Literasi Kota Salatiga, Ny. Retno Robby Hernawan, bertemu dengan aktivis difabel asal Kota Semarang, Putri Priscylia Wahyuningsih, S.Hum. Pertemuan yang berlangsung hangat tersebut digelar di Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dinpersip) Kota Salatiga.

Robby dan Retno berdialog bersama Putri yang didampingi ibundanya. Dalam pertemuan itu, Retno juga membacakan salah satu kutipan karya Putri yang termuat dalam buku antologi quotes berjudul Perihal Menanti, yang diterbitkan pada 2024.

Meskipun mengidap penyakit yang cukup langka yakni Pantothenate Kinase-Associated Neurodegeneration (PKAN), Putri memberikan motivasi dan menjadi inspirasi untuk terus berkarya meski ditengah keterbatasan yang ada. Kegigihannya menjadi inspirasi bahwa keterbatasan bukanlah alasan untuk berhenti berkarya dan memberikan manfaat bagi sesama.

Bagi Robby, pertemuan tersebut menjadi pengingat sekaligus penguat komitmen Pemerintah Kota Salatiga untuk terus menghadirkan ruang publik yang dapat diakses dan dimanfaatkan oleh seluruh masyarakat, termasuk penyandang disabilitas. Ia menegaskan, penyediaan fasilitas bagi penyandang disabilitas bukan bentuk keistimewaan, melainkan bagian dari pemenuhan hak setiap warga negara.
“Pertemuan dengan Mbak Putri hari ini semakin memperkuat komitmen kami, Pemerintah Kota Salatiga, untuk menyediakan ruang publik yang ramah disabilitas. Dinpersip adalah salah satu contoh ruang publik yang ramah disabilitas,dan saya harap kedepan akan menular ke tempat-tempat lainnya,” ujarnya.

Sementara itu, Bunda Literasi Kota Salatiga menjelaskan bahwa Dinpersip telah menyediakan berbagai fasilitas dan layanan yang mendukung akses masyarakat dengan kebutuhan yang beragam.
“Selain menyediakan tenaga pengajar huruf braille, Dinpersip juga memiliki ruang dan buku braille yang dapat dimanfaatkan oleh pemustaka disabilitas maupun pemustaka umum. Dinpersip juga memiliki program ramah disabilitas lainnya, seperti ketersediaan kursi roda, jalur pemandu (guiding block), jalur landau (ramp), komputer berbicara, fasilitas antar jemput disabilitas, toilet disabilitas, dan petugas yang paham tentang disabilitas,” jelasnya.

Pertemuan dengan Putri sekaligus menjadi momentum untuk meneguhkan semangat bahwa inklusivitas perlu diwujudkan melalui ruang, layanan, dan kesempatan yang memungkinkan setiap orang untuk tetap berkarya, belajar, dan berkontribusi tanpa terhalang oleh keterbatasan sehingga dapat mewujudkan Kota Salatiga yang ramah dan menjadi teman disabilitas menuju Indonesia yang inklusif.

Categories:

Tags:

Comments are closed