Wali Kota Salatiga, dr. Robby Hernawan, Sp.OG., berharap Kota Salatiga segera mempunyai museum yang representatif. Hal tersebut disampaikan saat pembukaan kegiatan Pelatihan Pemandu Museum Sejarah dan Cagar Budaya Kota Salatiga Tahun 2025 di Ruang Kaloka, Kamis (18/09/2025).
Dalam laporan panitia yang disampaikan oleh Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Salatiga, Henni Mulyani, kegiatan dengan tema Historiografi Salatiga ini merupakan salah satu kegiatan dalam program Pengelolaan Permuseuman. Pelatihan diselenggarakan pada tanggal 18-19 September 2025 dan diikuti oleh 45 peserta yang terdiri dari unsur guru sejarah, pengelola museum vektor, duta museum SMPN 1 Salatiga, mahasiswa, penggiat sejarah dan cagar budaya, serta masyarakat umum.
Sedangkan materi yang akan disampaikan antara lain Historiografi Prasasti Plumpungan, kurator koleksi museum, pelestarian cagar budaya, teknik komunikasi efektif, tata display pameran, dan praktek kepemanduan. Dengan narasumber dari Sraddha Institute Surakarta, Ketua Komunitas Telusur Salatiga, Budayawan, unsur Desain Komunikasi dan Digitalisasj Sejarah, serta dari IPMI kota Salatiga.
Dalam sambutannya, Wali Kota Salatiga, dr. Robby Hernawan, Sp.OG., menyebutkan bahwa musemum merupakan rumah tertinggi bagi kebudayaan yang menyajikan koleksi benda bersejarah yang menjadi sumber edukasi dan wahana interaksi budaya. Selain itu, museum juga merupakan salah satu daya tarik wisata, untuk meningkatkan pemahaman apresiasi budaya serta lebih jauh dapat meningkatkan ekonomi masyarakat.
Sejarah dan cagar budaya merupakan saksi perjalanan panjang bangsa. Tugas para pemandu adalah untuk menjaga, merawat, dan mengenalkan nilai luhur peninggalan budaya ini kepada generasi muda dan masyarakat luas.
Sebagai kota tertua kedua di Indonesia, Kota Salatiga tentu memiliki banyak peninggalan sejarah yang masih bertahan. Warisan tersebut diabadikan di dalam museum Salatiga sebagai bahan edukasi seluk beluk Kota Salatiga denga ikon yang paling terkenal yaitu Prasasti Plumpungan.
“Seyogyanya Salatiga memiliki museum yang representatif, mari bersama para pegiat budaya, untuk menyumbangkan saran dan pikiran supaya museum ini dapat terwujud,”sambut Robby.
“Nanti di akhir oktober, akan ada hajat internasional dimana ada 35 peneliti dari seluruh dunia akan berkunjung ke Salatiga untuk mengadakan konverensi, mudah-mudahan momen ini menjadi pencetus pengembangan budaya di Salatiga. Maka bukan berlebihan jika Salatiga ini disebut Salatiga yang mendunia,” lanjut Robby.
“Saya menyambut baik dan mengapresiasi terselenggaranya kegiatan pelatihan ini, saya harap pelatihan ini dapat menjadi investasi untuk meningkatkan kapasitas SDM permuseuman dan cagar budaya, khususnya bagi pemandu museum dan penggiat budaya yang merupakan garda terdepan dalam memperkenalkan dan melestarikan sejarah warisan bangsa khususnya di Kota Salatiga. Saya berharap para narasumber tidak hanya memberikan materi namun juga mempertajam teknis komunikasi yang efektif, menarik dan mudah dipahami. Semoga ke depan Salatiga memiliki museum yang berstandar nasional bahkan internasional dengan pemandu yang kompeten, profesional, dan berdedikasi.”pungkasnya.
Turut hadir dalam kegiatan, Sekretaris Daerah Kota Salatiga, Asisten Pemerintahan dan Kesra Sekda, Kepala Disbudpar Kota Salatiga, Tim Ahli Cagar Budaya Kota Salatiga, dan segenap Narasumber dan peserta.





Comments are closed