International Festival of Southeast Asia dengan tema “Diversified by Nationality, United by Commonality” yang diadakan oleh Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI) Chapter UKSW dan Program Studi Hubungan Internasional FISKOM UKSW, memiliki makna yang dalam dan sangat relevan dengan semboyan Bhinneka Tunggal Ika. Nilai ini juga sangat relevan diterapkan dalam hubungan antar bangsa khususnya di Asia Tenggara. Bahwa perbedaan bukanlah penghalang, melainkan kekayaan. Kita boleh berbeda suku, bangsa, bahasa, dan budaya, namun di balik itu semua, kita dipersatukan oleh kesamaan nilai-nilai kemanusiaan, kerja sama, dan cita-cita bersama akan perdamaian dan kemajuan.
Hal ini disampaikan oleh Wali Kota Salatiga Robby Hernawan saat menghadiri acara International Festival of Southeast Asia di Balairung Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) Salatiga, Senin (07/07/2025). Turut hadir dalam acara ini Dr. Dino Patti Djalal, pendiri Foreign Policy Community of Indonesia yang pernah menjadi Wakil Menteri Luar Negeri Indonesia dari 14 Juli 2014 hingga 20 Oktober 2014, dan pernah menjadi Duta Besar Indonesia untuk Amerika Serikat.
Robby berujar bahwa UKSW telah menjadi pilar penting dalam membangun budaya toleransi di tengah keberagaman. Kampus yang disebut sebagai Indonesia Mini, dimana mahasiswa dari berbagai penjuru nusantara bahkan mancanegara hidup dan belajar bersama dalam harmoni.
“Kehadiran Bapak Dino Patti Djalal, seorang tokoh kebijakan luar negeri Indonesia yang sangat inspiratif, tentu menjadi kehormatan dan kesempatan langka bagi kita semua untuk belajar langsung dari pengalaman beliau dalam diplomasi dan hubungan antarbangsa. Kota Salatiga sebagai Kota Tertoleran, yang dikenal akan toleransi dan keberagaman, tentunya sangat sejalan dengan semangat acara ini. Di tengah dinamika global saat ini, kegiatan seperti ini menjadi jembatan yang menghubungkan generasi muda dengan isu-isu internasional dan memperkuat solidaritas antarbangsa, khususnya di kawasan Asia Tenggara,” katanya.
Robby berharap acara ini dapat memperluas wawasan, membangun jejaring lintas negara, serta menumbuhkan semangat kolaborasi antar generasi muda Asia Tenggara.
“Semoga kegiatan ini tidak hanya menjadi perayaan keberagaman, tetapi juga menjadi titik awal untuk kolaborasi yang lebih luas di masa depan,” harapnya.
Sementara itu, Dr. Dino Patti Djalal, mengatakan kekagumannya kepada UKSW Salatiga, dimana proporsi mahasiswa dari Jawa dan luar Jawa berimbang, sehingga bisa dikatakan sebagai representasi dari Indonesia.
Untuk diketahui, Dino Patti Djalal adalah pendiri Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI), sebuah organisasi nirlaba yang berfokus pada isu-isu hubungan internasional dan kebijakan luar negeri Indonesia. FPCI bertujuan untuk memasyarakatkan isu-isu kebijakan luar negeri, melibatkan generasi muda, dan menjadi wadah diskusi serta advokasi bagi masyarakat terkait hubungan internasional.
FPCI didirikan pada tahun 2014. FPCI telah berkembang menjadi komunitas kebijakan luar negeri yang signifikan di Indonesia, dengan berbagai kegiatan seperti konferensi, seminar, dan diskusi yang melibatkan berbagai pemangku kepentingan, termasuk akademisi, diplomat, dan pembuat kebijakan.



Comments are closed