Wali Kota Salatiga, dr. Robby Hernawan, Sp.OG., menghadiri sekaligus memberikan arahan dalam Pertemuan Kelompok Kerja Operasional (Pokjanal) Demam Berdarah Dengue (DBD) Kota Salatiga Tahun 2026, Selasa. Kegiatan ini menjadi langkah strategis untuk memperkuat upaya mitigasi dan pengendalian DBD melalui sinergi lintas sektor.
Dalam arahannya, Robby menegaskan bahwa DBD masih menjadi tantangan serius bagi kesehatan masyarakat. Menurutnya, perubahan iklim, tingginya mobilitas penduduk, serta kondisi lingkungan yang kurang bersih menjadi faktor yang meningkatkan risiko penularan.
“Pengendalian DBD tidak bisa hanya menjadi tanggung jawab sektor kesehatan, tetapi memerlukan kolaborasi lintas sektor, sinergi yang kuat antar-pemangku kepentingan, serta partisipasi aktif masyarakat secara berkelanjutan,” ujarnya.
Robby juga mengajak seluruh jajaran pemerintah, mulai tingkat kota hingga kelurahan, untuk memperkuat edukasi dan pemberdayaan masyarakat melalui gerakan 3M Plus, menjaga kebersihan lingkungan, serta meningkatkan kewaspadaan terhadap gejala awal DBD agar penanganan dapat dilakukan secara cepat dan tepat.
“Saya berharap pertemuan ini tidak hanya menjadi kegiatan seremonial, tetapi menghasilkan tindak lanjut yang nyata dan terukur untuk melindungi masyarakat Kota Salatiga dari ancaman DBD,” tegasnya.
Sementara itu, Sekretaris Dinas Kesehatan Kota Salatiga, Suhardi, memaparkan data terkini kasus DBD hingga minggu kedua Mei 2026. Berdasarkan hasil pencatatan dan pelaporan epidemiologi, tercatat 1 kasus Demam Berdarah Dengue, 19 kasus Demam Dengue, dan 2 kasus Dengue Shock Syndrome.
Dari sisi kelompok usia, kasus didominasi usia produktif, dengan rincian 4 kasus pada usia 1–4 tahun, 5 kasus usia 5–14 tahun, 9 kasus usia 15–44 tahun, dan 4 kasus usia di atas 44 tahun. Berdasarkan jenis kelamin, penderita laki-laki tercatat 39 persen (9 orang), sedangkan perempuan 61 persen (13 orang).
Suhardi menegaskan, data tersebut menjadi dasar evaluasi sekaligus alarm bagi seluruh pemangku kepentingan untuk memperkuat pemantauan jentik dan pemberantasan sarang nyamuk secara berkala.
“Kesadaran kolektif untuk menjaga kebersihan lingkungan menjadi kunci utama dalam memutus mata rantai penularan DBD di Kota Salatiga,” pungkasnya.




Comments are closed