Komitmen Kota Salatiga sebagai kota paling toleran di Indonesia semakin kokoh. Wali Kota Salatiga, dr. Robby Hernawan, Sp. OG, didampingi sang istri, Retno Robby Hernawan, dan Wakil Wali Kota Nina Agustin, menerima kunjungan silaturahmi Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kedungsepur di Rumah Dinas Wali Kota, Sabtu (27/9/2025). Turut hadir pula Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik dan Ketua FKUB Kota Salatiga.

Pertemuan ini menjadi momen penting bagi FKUB Kedungsepur yang mencakup Kendal, Demak, Ungaran, Salatiga, Semarang, dan Purwodadi untuk merasakan langsung suasana kerukunan di Kota Salatiga.

Dalam sambutannya, Ketua FKUB Kota Salatiga, Drs. K.H. Noor Rofiq, menyampaikan rasa sukacita atas inisiasi pertemuan yang baru pertama kali diadakan di rumah dinas dan didukung penuh oleh Wali Kota dan Wakil Wali Kota. “Alhamdulillah, kami sangat bersukacita dengan kehadiran Bapak Ibu. Terus terang, inilah kota tertoleran nomor satu di Indonesia,” ujar K.H. Noor Rofiq dengan bangga.

Ia menekankan bahwa predikat ini adalah karunia yang harus dijaga agar Salatiga menjadi teladan bagi daerah lain. Ia juga berharap FKUB dapat dilibatkan dalam setiap pertemuan Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda).

K.H. Noor Rofiq kemudian memaparkan visi FKUB Salatiga untuk mewujudkan masyarakat yang rukun, harmonis, tertib, aman, tentram, damai, dan saling menghormati. Visi ini selaras dengan cita-cita Wali Kota, yakni ‘Salatiga Mendunia’ melalui toleransi yang hebat, yang juga ditopang oleh keberadaan dua perguruan tinggi besar, UKSW dan UIN Salatiga.

Menanggapi hal tersebut, Robby menegaskan bahwa toleransi bukan sekadar slogan, melainkan telah menjadi ‘DNA’ masyarakat Salatiga.
“Di Kota Salatiga, toleransi telah menjadi bagian dari DNA masyarakat. Dimana enam agama, puluhan etnis, dan berbagai aliran kepercayaan tidak hanya sekadar hidup berdampingan, tetapi saling mendukung dan saling menghormati satu dengan yang lain,” jelas Robby.

Kondisi ini, lanjutnya, tak lepas dari budaya gotong royong dan tepa selira yang melekat kuat, serta peran Pemerintah dalam memfasilitasi dan menjaga ruang-ruang dialog tetap terbuka. Keberagaman, kata Robby, telah menjadi jembatan yang memperkuat ekosistem toleransi.

Robby juga menyoroti peran strategis dari berbagai Organisasi Kemasyarakatan seperti FKUB, FPK, NU, Muhammadiyah, dan BKGS, termasuk dua universitas besar (UKSW dan UIN Salatiga) yang mahasiswanya berasal dari seluruh Indonesia.

Robby memaparkan berbagai bukti nyata kerukunan di Salatiga yang kerap menjadi sorotan nasional dan internasional antara lain, Warung NKRI (Wadah Akur Rukun Usaha Nurani Gelorakan NKRI) merupakan fasilitas yang rutin digunakan oleh berbagai ormas keagamaan, kebangsaan, dan kepemudaan sebagai pusat studi wawasan kebangsaan dan toleransi.

Yang kedua adalah Harmoni Rumah Ibadah, Keberadaan tempat ibadah berbeda agama yang berdekatan, seperti Masjid Kauman bersebelahan dengan Gereja Kristen Jawa, dan kompleks Masjid Darul Amal yang berdekatan dengan GKJTU, GPIAI Efata, dan TITD Hok Tek Bio, namun tetap harmonis dalam beribadah.

Berikutnya ialah Saling Jaga dan Berbagi, Para pemuda lintas agama bergantian menjaga keamanan saat perayaan Natal Bersama maupun Shalat Ied. Bahkan, Gereja Katholik St. Paulus Miki rutin membagikan takjil gratis selama bulan puasa.

Dan yg terakhir adalah Stabilitas Politik, saat gelombang demonstrasi Bulan Agustus lalu, alih-alih terjadi gejolak, Pemerintah, DPRD, Forkopimda, dan Aliansi Mahasiswa di Salatiga justru duduk bersama dengan harmonis untuk menyampaikan aspirasi.

Robby menyimpulkan bahwa semua pencapaian ini adalah buah dari peran FKUB Kota Salatiga yang berhasil mengelola keberagaman dengan sangat baik. Sebagai bonus, Salatiga sering dijadikan jujukan kunjungan kerja atau studi banding dari berbagai daerah di Indonesia, bahkan dari luar negeri seperti Pemerintah Australia (4 kali) dan Kedutaan Besar Amerika Serikat.

Categories:

Tags:

Comments are closed