Berbagai strategi pengembangan Kota Salatiga dipaparkan Wali Kota Salatiga dr. Robby Hernawan, Sp.OG., saat menjadi narasumber podcast Teras Negeri yang dipandu Rini Septiani dan ditayangkan melalui kanal YouTube Tempo.co, di Kantor Tempo, Jakarta, Jumat (14/8/2026).

Dalam kesempatan tersebut, Robby menjelaskan konsep Kota BEDA, yakni Bergerak, Energik, Dinamis, dan Adaptif, sebagai semangat pembangunan untuk merespons perkembangan zaman sekaligus mengoptimalkan potensi daerah.

Salah satu gagasan yang disampaikan adalah menjadikan Salatiga sebagai Giant Rest Area. Berada di antara Solo, Semarang, dan Yogyakarta, Salatiga dinilai memiliki posisi strategis sebagai tempat persinggahan perjalanan antarkota. Peluang ini semakin terbuka dengan pembangunan Exit Tol Pattimura yang diharapkan menjadi pengungkit pertumbuhan ekonomi baru di kawasan utara kota.
“Pembangunan Exit Tol Pattimura itu tidak sekadar pembangunan infrastruktur jalan, tetapi menjadi instrumen transformasi ekonomi wilayah,” ujar Robby.

Kawasan sekitar akses tol diarahkan untuk berkembang sebagai pusat niaga, UMKM, perumahan, dan destinasi wisata. Dalam jangka panjang, pengembangan wilayah juga diarahkan melalui konsep Modern City di bagian utara dan Heritage City di bagian selatan. Potensi wisata diperkuat dengan kuliner khas seperti tumpang koyor, wedang ronde, dan Sate Suruh.

Di sektor ekonomi kerakyatan, sekitar 26.000 pelaku UMKM mendapat pendampingan mulai dari permodalan, kurasi produk, perizinan hingga pemasaran digital. Salah satu produk yang disoroti adalah olahan singkong Argotelo yang disebut telah menembus pasar Australia, Singapura, dan Korea.

Ekosistem kewirausahaan juga diperkuat melalui JARKOM MABAR (Jaringan Komunitas Mahasiswa dan Anak Muda Berwirausaha) untuk mendampingi generasi muda dengan rintisan usaha maupun startup. Pengembangan koperasi turut diarahkan agar lebih adaptif dengan melibatkan generasi muda yang memiliki kemampuan digital.

Sementara itu, berbagai kegiatan seperti Salatiga Fashion Parade, pawai budaya, Pawai Wastra Nusantara, Pawai Ta’aruf, Christmas Parade, dan Dolan Salatiga dimanfaatkan sebagai sarana promosi wisata sekaligus penggerak ekonomi. Kegiatan lintas komunitas tersebut sekaligus memperkuat karakter Salatiga sebagai kota yang menjunjung tinggi toleransi.

Penguatan pembangunan juga dilakukan melalui optimalisasi BUMD dan aset daerah, digitalisasi pajak dan retribusi, serta peningkatan kepatuhan pembayaran PBB dan pajak kendaraan. Di bidang lingkungan, pengelolaan sampah dilakukan dari hulu hingga hilir melalui pemilahan, pengolahan sampah organik, TPS 3R, dan fasilitas pengolahan sampah, termasuk peluang kerja sama regional.

Gagasan lainnya adalah Senior Living, sebagai upaya mengubah citra Salatiga dari “Kota Pensiun” menjadi kota yang memberi ruang bagi lansia untuk tetap sehat, produktif, dan berdaya. Pengembangannya mencakup Sekolah Lansia, Rumah Dilan, Poliklinik Geriatri, hingga rencana kawasan Geriatric Wellness and Senior Living yang masih dalam tahap pengkajian kelayakan dan penjajakan investasi.

Seluruh strategi tersebut bermuara pada peningkatan kualitas hidup masyarakat.
“Tujuannya satu, membangun Kota Salatiga yang lebih baik, menciptakan warga Salatiga yang lebih sejahtera,” tegas Robby.

Melalui konsep Kota BEDA, berbagai potensi tersebut terus dikembangkan untuk menjadikan Salatiga sebagai kota yang nyaman ditinggali, menarik dikunjungi, berdaya saing, sekaligus mampu membuka peluang ekonomi bagi masyarakat.

Categories:

Tags:

Comments are closed