Wali Kota Minta Pokdarwis Tidak Berkecil Hati

Wali Kota Salatiga Yuliyantom, SE., MM., meminta Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) untuk tidak perlu berkecil hati dalam mengelola potensi wisata yang ada di wilayahnya. Wali kota menyemangati pegiat desa wisata tersebut disampaikan dalan Pelatihan Pengelolaan Desa Wisata yang digelar Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Salatiga di Kayu Arum resort, 12/10.

Kepala Disudpar Valentino Tanto Haribowo mengungkapkan bahwa kegiatan tersebut dilaksanakan untuk menggairahkan ekonomi masyarakat melalui pengembangan desa wisata. “40 peserta kami ikutkan dalam kegiatan ini. Kegiatan dilaksanakan selama 3 hari sejak hari ini, pada hari kedua akan dilaksanakan kunjungan lapangan ke Sitalang Kauman Kidul, dan pada hari ke tiga akan dilaksanakan study lapangan di Desa Wisata Lerep Ungaran. Semoga kegiatan ini mampu memberikan semangat bagi peserta,” terangnya.

Nugroho Prasetyaningsih SE., Kabid Pariwisata menambahkan bahwa pelatihan adalah dalam rangka menyiapkan pariwisata di Kota Salatiga agar menarik pengunjung baik dari Salatiga maupun luar Salatiga. “Selain itu untuk meningkatkan pengetahuan pelaku pariwisata dalam menggali potensi di wilayahnya masing-masing. Selanjutnya  meningkatkan ekonomi dan menjaga budaya lokal, peserta akan mendapatkan sertfikat pelatihan bagi peserta yang mengikuti hingga akhir. Berkenan menjadi keynote speaker Bapak Wali Kota Salatiga. Selanjutnya pemateri adalah: Eko Seno HRM, SE, MM, PFC motivator dan Staf Ahli DPRD Provinsi Jawa Tengah, Hadi Sucahyono dari unsur profesional, dan Napoleon Bastian Christy Wauran juga dari praktisi,” Nugroho Prasetyaningsih melaporkan.

Eko Seno HRM, menyampaikan tema Desa Wisata Dalam Sistem Kepariwisataan. “Desa wisata adakah suatu bentuk integrasi antara potensi daya tarik wisata alam, wisata budaya, dan wisata hasil buatan manusia dalam satu kawasan tertentu dengan didukung oleh atraksi, akomodasi, dan fasilitas lainnya sesuai kearifan lokal masyarakat,” jelas Eko Seno.

Sementara wali kota dalam paparannya menyampaikan meski di tengah pandemi kita terus berinovasi. “Wisata tidak melulu yang memiliki pantai, gunung, ataupun candi. Namun kita tidak boleh berkecil hati. Banyak negara yang tidak memiliki potensi alam tapi mampu menggerakkan potensi yang ada. Contohnya Kelurahan Kauman Kidul punyanya cuma sawah, bisa memanfaatkan sawah tersebut. Saya ke Kauman kidul lebih dari 10 kali, maksudnya untuk mendorong masyarakat untuk membentuk desa wisata. Saya akan terus mendorong masyarakat melalui Pokdarwis, karang taruna, dan juga pemerintah kelurahan dalam menjalanka program tersebut. Saya berharap di setiap kelurahan bisa memiliki desa wisata,” papar Yuliyanto.

“Dengan memmbetuk desa wisara harapannya adalah mampu menggerakkan roda ekonomi, sebagai contoh ada 10 UMKM yang aktif saja akan memberikan dampak ekonomi. Pengembangan wisata di desa, kuncinya adalah wisata berbasis masyarakat. Semua harus terlibat, karena masyarakat juga berperan maka akan mendapatkan manfaat, kenapa perlu pemberdayaan masyarakat, memang ada masyarakat yang apatis. Pemberdayaan diperlukan agar rasa kebersamaan dan rasa memiliki muncul. Selain itu tips selanjutnya adalah dengan cara menggali potensi yang biasa dijual, penyiapan infrastruktur, dan promosi,” tambah wali kota.