Tingkatkan Pelayanan Kesehatan Pada Ibu dan Anak

Salatiga – Tenaga kesehatan di Kota Salatiga dituntut untuk terus mengembangkan kompetensinya dalam memberikan pelayanan kesehatan ibu dan anak. Sehingga derajat kesehatan masyarakat meningkat.

Hal ini disampaikan Wali Kota Salatiga, Yuliyanto SE., MM saat membuka Pembukaan Pembelajaran Audit Maternal Perinatal (AMP) pada kasus kematian ibu dan bayi Kota Salatiga, di Ruang Plumpungan Setda Kota Salatiga, Rabu (05/01/2022). Menurutnya,  peran tenaga kesehatan pada pelayanan kesehatan ibu dan anak serta kesehatan reproduksi sangat mendukung derajat kesehatan masyarakat. Hal ini sejalan dengan apa yang akan dicapai Pemerintah Daerah dalam pembangunan kesehatan baik untuk mencapai Indikator Kinerja Utama (IKU) yaitu Angka Kematian Ibu, Angka Kematian Bayi, Prevalensi Gizi Buruk dan prevalensi stunting.

“ Ini harus dilakukan dengan baik karena untuk mewujudkan kewajiban pemerintah daerah dalam mencapai  Standar Pelayanan Minimal (SPM) bidang kesehatan. Oleh sebab itu, tenaga kesehatan dituntut untuk terus mengembangkan kompetensi yang berkualitas dalam pelayanan kesehatan ibu dan anak sehingga diharapkan bisa berinovasi dalam pemberian layanan,” kata Wali Kota.

Yuliyanto menambahkan, juga memastikan akses pelayanan kesehatan bagi ibu hamil di puskesmas dan posyandu tetap berlangsung tidak berhenti di tengah pandemi dan terus menggencarkan aspek promotif berupa edukasi.

“ Situasi Kesehatan Ibu dan Anak di Kota Salatiga sampai dengan akhir tahun 2021, terdapat angka kematian ibu sebanyak 10 kasus dan 8 diantaranya karena Covid-19 (target 2 kasus) sedangkan untuk jumlah kematian bayi mencapai  29 kasus  (target 26 kasus). Kemudian untuk prosentase balita stunting di Tahun 2020 sebesar 9,59% (target <14%) dan tahun 2021 sebesar 10,54% (target <12%),” jelasnya.

Sementara itu, Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat DKK Kota Salatiga, Suparli, SKM., M.Kes mengatakan bahwa dari kegiatan tersebut akan didapatkan data kematian ibu, bayi dan balita, mengupas dan menganalisa kematian, ketersediaan tenaga kesehatan, dan prosedur pemberian layanan kesehatan.

“ Kegiatan ini bisa menghasilkan mana-mana yang menjadi prioritas yang mempengaruhi faktor-faktor terhadap kejadian kematian ibu dan anak, sebagai bentuk diseminasi informasi prosedur layanan dan upaya meningkatkan kemampuan SDM kesehatan di Kota Salatiga,”ungkap Suparli. Adapun peserta yang mengikuti kegiatan ini adalah perwakilan dari oganisasi IDI dan IBI, komunitas pelayanan kesehatan ibu dan anak di Rumah Sakit, Puskesmas, Klinik Ibu dan anak, praktek mandiri bidan, dan tim dari DKK Kota Salatiga.