Sekolah Pra Nikah Tingkatkan Kualitas Keluarga

Sekolah pra nikah sangat penting untuk mendukung terbentuknya keluarga berencana yang berkulitas. Hal tersebut disampaikan Dr. Rahmat Hariyadi Ketua FAPSEDU (Forum Antar Umat Beragama Peduli Keluarga Sejahtera dan Kependudukan) Kota Salatiga saat menjadi pemateri dalam Workshop Bangga Kencana (Pembangunan Keluarga, Kependudukan, dan Keluarga Berencana), yang dibuka oleh Wali Kota Yuliyanto, di Rumah Dinas Wali Kota, 20/05.

Budi Cahyono Ketua Panitia (Kabid Pengendalian Penduduk, Advokasi, dan komunikasi, informasi, dan edukasi pada DP3APPKB) menjelaskan workshop bertujuan meningkatkan pengetahuan dan peran serta mitra kerja dalam program Bangga Kencana.

Sedang Kepala  DP3APPKB Heny Mulyani disela workshop menerangkan bahwa peserta workshop adalah mitra Bangga Kencana. “Kali ini peserta berjumlah 60 orang terdiri dari anggota Fapsedu Kota Salatiga, PKK Kota (berkenan hadir Ketua PKK Titik Kirnaningsih Yuliyanto), PKK Kecamatan, dan PKK Kelurahan, serta Kader PPKBD Kota Salatiga. Sedangkan pemateri  adalah Kepala DP3APPKB, Daru Purnomo Ketua Koalisi Kependudukan Indonesia, dan Dr. Rahmat Hariyadi Ketua FAPSEDU (Forum Antar Umat Beragama Peduli Keluarga Sejahtera dan Kependudukan) Kota Salatiga,” terangnya.

Wali Kota berharap kegiatan workshop mampu meningkatkan program Bangga Kencana di Salatiga. “Kegiatan ini strategis untuk pengembangan Bangga Kencana. Bangga kencana adalah progran nasional yang perlu kita dukung. Mohon materi yang disampaikan pemateri disimak dan disikusikan bersama. Semoga melalui diskusi nanti akan membawa semangat baru untuk mendukung program Bangga Kencana,” pinta wali kota dalam sambutanya.

Tampil sebagai pemateri pertama Ketua Koalisi Kependudukan Indonesia Kota Salatiga mengangkat tema Peran “Aktor” dalam mewujudkan Keluarga Berkualitas dan Pertumbuhan Penduduk Seimbang. “Kalau kita bertanya kepada masyarakat apa itu KB maka jawabannya adalah alat kontrasepsi, itu karena penekanan pemerintah adalah pengendalian penduduk. Maka sekarang dikembangkan program Bangga Kencana. Saya tanya mahasiswa, apa anda ingin berkeluarga jawabannya: iya. Pertanyaan selanjutnya berapa jumlah anak yang anda inginkan, jawabannya 2, dan Umur berapa akan bangun keluarga rata-rata perempuan menajwaba pada usi 24-25, sedangkan laki-laki di usia 25-27. Program yang diterapkan orde baru sudah tertanam dalam alam sadar masyarakat, artinya program keluarga berencana sebenarnya sukses. Keinginan masyarakat ingin berkeluarga kecil sudah memasyarakat,” terangnya.

“Untuk kota Salatiga petanya adalah meski pertambahan penduduk alami atau karena kelahiran sedikit tapi pertambahan penduduk non alami atau karena mobilitas cukup tinggi, banyak orang yang pindah dan tinggal di Salatiga,” tambah Daru Purnomo.

Sementara dr. Rahmat Hariyadi menginformasikan bahwa  pada Bulan Januari 2021 ini jumlah cerai talak 42, sedangkancerai gugat(yang diajukan istri) 97, Februari talak sejumlah 24 sednagkan cerai gugat mencapai 69. Artinya angka permintaan perceraian yang diajukan oleh istri mendominasi. Oleh sebab itu saat ini saya bicara tentang ketahanan keluarga. Kasus tersebut sebabnya adalah pabrik lebih menerima pekerja perempuan dari pada laki-laki. Sedang yang mengantar anak ke TK dan menunggu hinga anak pulang laki-laki atau bapaknya, depan ruamh saya itu TK jadi saya melihat sendiri. Karena lakinya tidak bekerja, dan istri merasa bekerja maka ini menjadi faktor penyebab perceraian,” ungkap mantan Rektor IAIN Salatiga ini.

“Selanjutnya yang dimaksud ketahanan keluarga adalah kemampuan keluarga untuk mengelola sumber daya dan masalah yang dihadapi keluarga agar keluarga sejaktera yaitu terpenuhinya kebutuhan seluruh keluarga (Sunarti 2001). Selanjutnya indikator ketahanan dan kata kuncinya adalah : keutuhan dan keakraban (komunikasi: saling memahami, menerima, mengisi, yukur dan sabar), Ketahanan Ekonomi, Ketahanan Fisik, Sosi-psikologis, dan ketahanan sosial budaya,” jelas Rahmat Hariyadi.