Kumpulrejo Jadi Kelurahan Tanpa Kekerasan

ARGOMULYO – Pj Walikota Salatiga, Ahmad Rofai secara resmi meluncurkan Bulan Keluarga Tanpa Kekerasan di Balai Kelurahan Kumpulrejo, Kamis 23/12. Peluncuran ini menandai Kelurahan Kumpulrejo sebagai pilot project Bulan Keluarga Tanpa Kekerasan.

Pj Walikota dalam sambutannya mengatakan bahwa ia mengapresiasi kegiatan tersebut dan merasa bangga karena Kelurahan Kumpulrejo dipilih sebagai pilot project kegiatan tersebut. “Saya mendapat laporan bahwa Ibu Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak akan berkenan berkunjung ke Kumpulrejo, Salatiga untuk meninjau langsung program ini pada tanggal 30 Desember mendatang. Untuk itu, saya juga ingin melihat langsung di lapangan berkaitan dengan program ini,” ujar Pj Walikota.

Ketua Panitia Kegiatan Bulan Keluarga Tanpa Kekerasan, Arianti Ina Hunga yang juga merupakan dosen Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) Salatiga mengatakan bahwa kegiatan tersebut merupakan kerjasama dari berbagai elemen. “Program ini merupakan kerjasama dari Kementrian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, BP3AKB Provinsi Jawa Tengah, Bapermasper KB dan KP Kota Salatiga, Pusat Studi Gender UKSW, ASWGI Provinsi Jawa Tengah, dan juga LSM Parahita Foundation,” jelas Arianti Ina Hunga.

Lebih lanjut ia menjelaskan bahwa program yang diberi nama “Pitutur Srikandi” tersebut bermakna perempuan berinisiatif, saling membagi pengetahuan dan bekerjasama dengan lak-laki dalam membangun kapasitas untuk berpartisipasi pada program prioritas utama “Three Ends” menuju keluarga produktif, tanpa kekerasan dan berkelanjutan. Three ends sendiri mempunyai makna yaitu; akhiri kekerasan terhadap perempuan dan anak, akhiri perdagangan manusia dan akhiri kesenjangan ekonomi.

“Hal yang paling utama dari program ini adalah adanya perubahan cara berfikir dari masyarakat tentang perlakuan terhadap perempuan dan anak-anak. Kumpulrejo sendiri dipilih sebagai pilot project karena di kelurahan ini masyarakatnya sangat menjunjung tinggi tata krama dan jauh dari kekerasan. Program ini tidak berhenti di akhir tahun, tapi berkelanjutan di tahun-tahun mendatang,” ungkap Dosen UKSW ini.

Hal senada juga disampaikan oleh salah seorang tokoh masyarakat, Ismadi. “Saya sebagai warga merasa bangga Kumpulrejo dipilih untuk program ini. Unggah-ungguh masih terjaga di sini. Kekerasan juga jauh. Di sini tidak ada anak yang memanggil bapaknya ‘Bro’,” kata Ismadi diiringi tawa para undangan.

Hadir dalam kegiatan tersebut, Pj Sekretaris Daerah Kota Salatiga Sri Wityowati, Para Asiten Sekda, Kepala SKPD terkait dan sekitar 80 warga Kumpulrejo. (sg)