Predikat sebagai salah satu Kota Tertoleran telah terimplementasikan secara nyata dalam kehidupan beragama masyarakat Kota Salatiga. Dengan komposisi pemeluk agama yang variatif, Pemkot Salatiga terus berupaya memberi ruang yang sama bagi seluruh masyarakat untuk beribadah, berekspresi, mengaktualisasikan diri, dan lain sebagainya.

“Ketika ada kegiatan keagamaan seperti perayaan hari raya, kegiatan seni, karnaval, dan lain-lain, semua Tokoh Agama dan Forkopimda selalu duduk bersama menyaksikan. Tak hanya itu, semua pemeluk agama juga ikut terlibat,” papar Wali Kota Salatiga, Yuliyanto SE, MM, saat menerima kunjungan dari Pemerintah dan Forum Komunikasi Umat Beragama (FKUB) Kota Bontang, Kalimantan Timur, di Rumah Dinas Wali Kota Salatiga, Senin (10/02/2020).

Pemberian ruang yang sama terhadap semua pemeluk agama di Salatiga ini, merupakan bentuk kesadaran bahwa hanya manusia lah sumber daya yang dimiliki oleh Salatiga. Sumber daya manusia ini yang kemudian dikelola melalui tiga bidang pembangunan, yakni pendidikan, kesehatan dan ekonomi.

“Jika Bontang memiliki sumber daya alam yang tinggi melalui hasil bumi, maka Salatiga hanya memiliki sumber daya manusia saja. SDM itulah yang kami bangun melalui bidang pendidikan supaya cerdas yang kami istilahkan dengan wasis, bidang kesehatan dengan berobat gratis, bahkan terhadap warga yang tidak memiliki kartu sehat sekalipun hingga sembuh atau waras,” tandas Yuliyanto.

Begitu pula terkait pembangunan manusia di bidang ekonomi, Pemkot Salatiga mengupayakan peningkatan kesejahteraan ekonomi mikro yang banyak tumbuh di bidang kuliner, konveksi, ekonomi kreatif dan lain-lain supaya tetap sejahtera (wareg).

Pembangunan manusia tersebut, lanjut Yuliyanto, tak lepas dari komunikasi Pemerintah dengan semua stakeholder, yang terus terjalin dalam mengelola perbedaan yang ada. Upaya itu membuahkan hasil, yakni turunnya angka kemiskinan dan meningkatnya Indeks Pembangunan Manusia (IPM) yang sangat signifikan.

Dengan terpenuhinya 3W (Wasis, Waras, Wareg), dipastikan masyarakat akan sepakat untuk menjaga pengaruh buruk yang datang dari luar. Hal itu dilakukan supaya keamanan, ketertiban dan kebersihan kota dapat stabil, dan predikat ini akan terus mengikuti.

“Bukan predikat yang kami cari, tapi bagaimana caranya supaya masyarakat Salatiga sejahtera. Siapapun bisa bertemu dengan saya. Siapapun bisa menyampaikan keluh kesahnya langsung kepada saya dan Forkopimda. Masyarakat juga sudah memiliki nomor telepon saya,” tegasnya.

Sementara, Asisten Pemerintahan dan Kesra Sekda Kota Bontang, Drs. H M Bahri M.AP, yang hadir bersama Kepala Kantor Kemenag dan FKUB Kota Bontang, Kalimantan Timur, menyampaikan maksud dan tujuan kunjungannya ke Kota Salatiga, yakni untuk studi tiru terkait predikat Kota Salatiga sebagai Kota Tertoleran, agar dapat diaplikasikan di daerahnya.

Kota Bontang memiliki karakteristik wilayah hampir sama, yakni memiliki 3 kecamatan, 15 kelurahan, berpenduduk sebesar 170 ribu jiwa, dan sangat plural dengan sedikit didominasi Suku Bugis dan Jawa. Meski demikian, Bontang merupakan daerah penyumbang APBN terbesar di Indonesia. Sebab, di kota yang saat ini dipimpin Wali Kota dr. Hj. Neni Moerniaeni, Sp.OG, tersebut berdiri tiga perusahaan besar di bidang gas alam, pupuk dan batubara serta memiliki kawasan industri petrokimia. Kota Bontang sendiri merupakan kota yang berorientasikan di bidang industri, jasa, serta perdagangan.

“Setelah melihat data tentang Kota Salatiga dengan hasil evaluasi kerukunan umat beragama Peringkat 2 Nasional, di bawah Singkawang, kami memutuskan untuk melaksanakan kunjungan ke Kota Salatiga. Meskipun Singkawang Kalimantan Barat ini lebih dekat, tapi untuk transportasi harus berputar beberapa kali penerbangan hingga ke Surabaya bahkan ke Jakarta dulu. FKUB Bontang ingin belajar dengan Salatiga, bagaimana bisa mencapai Peringkat 2 Nasional sebagai Kota Tertoleran, sementara penduduknya hampir sama dengan Bontang,” tutur Bahri.