SALATIGA-  Walikota Salatiga, Yuliyanto SE, MM menilai bank sampah yang ada di Kota Salatiga masih memerlukan berbagai masukan dan inovasi, agar kelompok bank sampah tersebut dapat menghasilkan produk yang benar-benar memiliki daya tarik dan nilai ekonomis.
“Tumbuhnya bank sampah hingga ke tingkat kelurahan menunjukkan bahwa minat masyarakat untuk mengurangi sampah ini sudah ada. Hanya saja nilai ekonomisnya belum begitu tinggi. Sehingga butuh pembelajaran kepada masyarakat yang telah bergabung ke dalam kelompok Bank Sampah tersebut,” terang Yuliyanto, saat memberi sambutan Audiensi e-Bank Sampah dengan Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Salatiga, Pembantu Rektor (Purek) 5 UKSW Salatiga, Kepala Cabang BNI Salatiga dan AVP Manajemen Produk Konsumer BNI dari Jakarta, di Rumah Dinas Walikota Salatiga, Rabu (27/3).
Walikota menuturkan, keberhasilan Kota Salatiga dalam meraih Penghargaan Adipura selama tiga kali berturut-turut, tak lepas dari peran serta seluruh lapisan masyarakat yang sadar untuk mengurangi sampah. Dengan adanya dukungan dari para pelaku usaha yang ada di Salatiga, diharapkan apa yang menjadi tujuan bersama dalam pengelolaan sampah tersebut bisa terwujud dengan baik. Sehingga sampah tak lagi menjadi suatu permasalahan, tapi dapat diolah sedemikian rupa menjadi hal-hal yang bermanfaat.
Terkait perkembangan teknologi informasi yang lebih maju, diharapkan bank sampah di Salatiga bisa memanfaatkan secara positif dan keberadaannya bisa digarap lagi dengan lebih serius.
“Sekarang, sasaran sudah jelas dan stakeholder juga sudah ada. Tinggal menyatukan persepsi untuk segera dilakukan sosialisasi dan gerakan menyeluruh di dunia pendidikan dan masyarakat. Secara teknis pihak BNI yang akan mensosialisasikan, kita manut saja untuk kebaikan Kota Salatiga,” ujar Yuliyanto.
Sebagaimana diungkapkan Kepala Dinas Lingkungan Hidup Prasetyo Ichtiarto, Bank Sampah di Salatiga sudah mulai banyak dan meningkat dari tahun-ke tahun. Hingga saat ini jumlahnya telah mencapai 50 Bank Sampah. Menurutnya, ini sebagai pertanda bahwa sampah sudah beralih menjadi berkah dan masyarakat sudah bisa menilai bahwa sampah yang memiliki nilai ekonomis akan memberi keuntungan.
“Selama ini Bank Sampah telah mampu memproduksi berbagai kerajinan, namun belum mampu menembus sampai ke pemasaran dan permodalan,” tandas Prasetyo.
Sementara, AVP Manajemen Produk Konsumer BNI, Andi Setianto Rosandi, menuturkan misinya dalam meningkatkan peran komunitas terhadap lingkungan. Selain rencana bisnis, tahun ini BNI berencana dengan aksi keuangan berkelanjutan, yaitu dengan gerakan Ayo Menabung dengan Sampah.
“Kami mengamati semua Bank Sampah sudah berjalan, oleh karena itu kami mencoba membuatnya lebih modern, sehingga bank sampah kami buat terkoneksi dengan sistem perbankan dan dapat menjadi agennya bank,” kata Adi.
Keuntungannya, semua transaksi dari setoran sampah melalui e-Bank Sampah bisa langsung masuk ke rekening nasabah, sehingga manfaat langsungnya bisa dirasakan dan dipantau setiap saat. Dengan e-Bank Sampah, Bank Sampah tidak hanya melayani transaksi nasabah dalam hal setor sampah saja tapi juga bisa melayani transaksi-transaksi perbankan lainnya.
“Dengan begitu, masyarakat tak hanya teredukasi untuk melestarikan lingkungan saja, tetapi juga teredukasi dalam hal bisnis dan perbankan. Melalui e-Bank Sampah, masyarakat bisa menggunakan hasil setoran sampahnya untuk membayar BPJS, tagihan listrik dan lain-lain atau yang disebut dengan one stop solution,” tukas Adi.