Deklarasi Sekolah Ramah Anak Pemkot Salatiga Wujudkan Sekolah Nyaman

Bagikan

Pemkot Salatiga melalui Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3APPKB) menyelenggarakan Deklarasi Dukungan Sekolah Ramah Anak. Deklarasi yang diikuti tingkat SMP/Sederajat dan SMA/SMK/Sederajat se-Kota Salatiga itu dilaksanakan di Pendopo Pakuwon Gedung Setda Kota Salatiga, Senin (21/11). Hadir Pj. Wali Kota Salatiga, Kepala Cabang Dinas Wilayah V Depdikbud Prov. Jateng, Kakan Kemenag, Kepala Disdik, Kepala DP3APPKB, Segenap Camat, Kepala Sekolah dan forum anak Kota Salatiga.

Kabid Kesejahteraan dan Perlindungan Anak, Sri Hartini, S.Pd., M.Pd dalam laporannya menyampaikan tujuan deklarasi adalah menjadikan sekolah lebih nyaman dalam pembelajaran. “Tujuan adalah terwujudnya sekolah yang aman dan menyenangkan bagi peserta didik karena bebas kekerasan antar peserta didik maupun kekerasan tenaga pendidik, terbentuknya perilaku pendidik dan tenaga kependidikan yang berspektif anak, meningkatkan partisipasi peserta didik dalam proses pembelajaran dan dalam pengambilan keputusan di sekolah”. Pihaknya juga menekankan bahwa sekolah ramah anak merupakan salah satu indikator untuk mewujudkan kota layak anak. Selain itu, Kota Salatiga juga telah meraih kota layak anak kategori madya dan pada tahun 2023 berkomitmen untuk meraih kota layak anak kategori nindya.

Deklarasi Dukungan Sekolah Ramah Anak diwujudkan dengan penandatanganan oleh beberapa pihak, diantaranya adalah Pj. Wali Kota, Kepala Cabang Dinas Wilayah V Depdikbud Prov. Jateng, Kepala Kakan Kemenag, Kepala Disdik, Kepala DP3APPKB, seluruh Camat dan segenap Kepala Sekolah dari SMP (19) & SMA Sederajat (9). Kesempatan tersebut, Pj. Wali Kota juga memberikan sambutan dan arahannya terkait kegiatan yang digelar. “Hari ini yang dihadirkan adalah para pendidik, saya nderek titip Bu Yuni (Ka DP3APPKB), Bu Nunuk (Ka Disdik), orang tua harus dilibatkan. Jangan melakukan pembiaran kepada salah seorang dengan berdalih guyon ‘bercanda’. Bully itu dimulai dari pembiaran, misalkan ngejek temannya. Ngejek temannya itu biasanya fisik, warna kulit, dan itu yang biasanya jadi obyek untuk bahan tertawaan. Jangan bersembunyi seolah-olah menjadi Eufemisme, Eufemisme itu memperhalus dan membenarkan kesalahan itu menjadi sebuah pemakluman”. Maka, orang nomor satu di Salatiga itu sangat mencerca seseorang yang selalu merasa benar dengan candaan yang mengarah kepada Suku, Agama Ras dan Antar golongan (SARA). Hal tersebut bila dibiarkan akan memicu konflik sosial yang mengakibatkan perpecahan. Kesempatan yang sama, Pj. Wali Kota memberikan 2 unit Handphone kepada dua siswi SLB Salatiga dan satu buah amplop untuk guru isyarat yang membantu Pj. Wali Kota berkomunikasi dengan siswi tersebut.

@jokowi @kemendagri @ganjar_pranowo @sinung_rachmadi @setdasalatiga @humaskotasalatiga @kemenagsalatiga @kemenkominfo @provjateng @humas.jateng @kemdikbud.ri @disdik.sl3 @dp3ap2kb_jateng @dp3appkb.salatiga