Bangga Kencana, Guna Kendalikan Laju Penduduk

Salatiga – Laju pertumbuhan penduduk harus dikendalikan. Salah satunya dengan melaksanakan program Bangga Kencana yang dilakukan di Kota Salatiga.

Hal tersebut disampaikan oleh Wali Kota Salatiga, Yuliyanto SE MM saat membuka Lokakarya Daerah Program Pembangunan Keluarga, Kependudukan dan Keluarga Berencana (Bangga Kencana), di Aula Kecamatan Argomulyo, Kota Salatiga, Senin (05/04/2021).

Menurutnya, dalam Bangga Kencana ini, keluarga menjadi entry point dalam intervensi yang dilakukan BKKBN dan perangkat daerah pengelola program KB di daerah. Program yang dibentuk untuk menyeimbangkan antara kebutuhan dan jumlah penduduk yang ada.

“ Program  Keluarga Berencana oleh Pemerintah bertujuan agar keluarga sebagai unit kecil menjadi NKKBS (Norma Keluarga Kecil Bahagia dan Sejahtera). Sehingga keluarga bisa membina dan membentuk keluarga yang handal,” kata Yuliyanto.

Wali Kota mengatakan bahwa yang menjadi sebuah tantangan adalah bagaimana untuk membangun keluarga melalui pelayanan kontrasepsi bagi masyarakat, terlebih dalam pandemi covid-19 ini.

“ Hal tersebut tidak hanya terfokus pada masalah Kependudukan dan KB saja, namun pembangunan keluarga dimulai dari  rencana berkeluarga yang baik dengan beberapa program lainnya seperti Bina Keluarga Balita (BKB) untuk menurunkan angka stunting, program penyiapan kehidupan berkeluarga bagi remaja melalui PKBR yang meliputi Pendewasaan Usia Perkawinan (PUP), keterampilan hidup (life skill) dan pendidikan,” ujarnya.

Selain itu, Yuliyanto juga mengingatkan adalah pelayanan kontrasepsi. Pembatasan interaksi secara fisik menjadikan intensitas pelayanan dan akses kesehatan termasuk pelayanan kontrasepsi menjadi terkendala.

“ Di masa pandemi covid-19, ada kekhawatiran terhadap penurunan jumlah peserta KB yang berpotensi meningkatnya laju pertumbuhan. Hal ini harus kita pikirkan dan cari solusi terbaik,” tambahnya.

Di Kota Salatiga  sendiri, peserta KB baru tahun 2020 mengalami penurunan 29%, jika tahun 2019 mencapai 2.485 peserta, tahun 2020 turun menjadi 1.768 peserta. Penurunan hampir di seluruh metode kontrasepsi yaitu IUD, MOP, Kondom, implan, suntik dan pil.

“ Jumlah ini menjadi tantangan tersendiri bagi pemerintah untuk dapat memberikan pemahaman tentang pentingnya program KB kepada masyarakat. Agar semua bisa berjalan bersama dan baik,” imbuhnya.