120 CPNS Baru Akan Ikuti “Blended Learning”

Wali Kota – Seorang CPNS baru  harus memiliki kemampuan lebih dalam mengelola diri dan mengabdi kepada masyarakat. Di pundak mereka nantinya para pemimpin yang berintegritas akan muncul.

Hal ini disampaikan oleh Wali Kota Salatiga, Yuliyanto saat membuka Pelatihan Dasar (Latsar) CPNS Kota Salatiga Tahun 2021, di Ruang Kaloka, Gedung Setda Salatiga, Selasa (09/03/2021). Menurutnya, CPNS yang berdiri sekarang merupakan orang pilihan. Dari beribu pendaftar merekalah yang terjaring dan dapat bergabung di Pemerintah Salatiga.

“ CPNS di Kota Salatiga harus memiliki kemampuan yang lebih. Mari bersama-sama untuk menularkan tenaga, pikiran dan waktu untuk kota Salatiga terlebih dalam melayani masyarakat,” kata Yuliyanto

Dalam mengikuti latsar ini, para CPNS harus  bekerja keras di masing-masing bidangnya. Diharapkan para peserta bisa melaksanakan dan mengikuti dengan baik dan mendapatkan predikat lulus nantinya.

“Karena masa satu tahun ini sebagai CPNS masih butuh belajar, perjuangan dan menyesuaikan artinya  dalam satu tahun kedepan huruf C bisa dihilangkan dan menjadi PNS yang baik dan berintegritas,” tambahnya.

Plh Kepala BKPSDM Kota Salatiga, Mustain mengatakan bahwa seorang CPNS (ASN) baru harus memiliki kemampuan digital baik digital talent dan digital leader.

“Mereka harus memiliki integritas, rasionalisme, profesionalisme, menguasi teknologi dan informasi, berjiwa melayani, inovasi dan kreasi,” ungkapnya.

Dirinya menambahkan bahwa di Kota Salatiga sendiri terdapat  222 orang CPNS dari formasi tahun 2019. Untuk angkatan tahun 2021 ini, hanya 120 orang  baru mengikuti Latsar dengan ketentuan dari LAN, dan sisanya di tahun 2022.

“Latsar  CPNS 2021 ini nantinya akan dimulai dengan blended learning selama 74 hari kerja dan kota Salatiga menjadi yang pertama mengawali melaksanakan blended learning tersebut,” jelas Mustain.

Sebagai informasi blended learning adalah sebuah kemudahan pembelajaran yang menggabungkan berbagai cara penyampaian, model pengajaran, dan gaya pembelajaran, memperkenalkan berbagai pilihan media dialog antara fasilitator dengan orang yang mendapat pengajaran.

Blended learning juga sebagai sebuah kombinasi pengajaran langsung (face-to-face) dan pengajaran online, tapi lebih daripada itu sebagai elemen dari interaksi sosial. (Rudy)