BALAIKOTA – Sebagai salah satu upaya partisipatif masyarakat dalam program serentak Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN)/Pemberantasan Jentik Nyamuk (PJN), Pemkot Salatiga mencanangkan Kancil Batik (Kader Cilik Buru Sergap Jentik). Pencanangan dilaksanakan oleh Wakil Walikota Salatatiga, Muh Haris, SS.MSi bersama Jajaran Forkopimda dalam apel pagi di Halaman Pemkot, Jumat 08/03.

Wawali berharap agar semua sekolah di Salatiga dapat dibentuk Kancil Batik dan aktif melaksanakan kegiatan PSN 3M Plus (menguras, menutup dan memanfaatkan kembali barang bekas plus mencegah gigitan nyamuk). “Dengan adanya Kancil Batik akan meningkatkan partisipasi anak-anak baik di sekolah maupun di rumah untuk turut menjaga lingkungan tetap bersih dan bebas dari nyamuk,” papar Muh Haris.

Muh Haris mengatakan bahwa kegiatan PSN yang dilaksanakan secara rutin dan terus menerus akan menaikkan angka bebas jentik dan menurunkan angka kejadian kasus demam berdarah. “Namun demikian, demi keberhasilan penanggulangan DBD diperlukan adanya partisipasi yang akomodatif, fasilitatif dan juga diperlukan kerjasama dari masyarakat dan swasta, serta kerjasama lintas sektor yang terpadu, terarah dan berkesinambungan,” kata Wakil Walikota.

Wawali juga mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk melaksanakan 3M Plus, mengaktifkan kembali gerakan Jumat Bersih, mengaktifkan Pokjanal DBD di tingkat RT/RW. Wawali juga mengingatkan untuk segera melaporkan ke puskesmas terdekat jika terjadi kasus DBD. “Yang tak kalah penting, Satu Rumah Satu Jumantik harus diterapkan di dalam satu bangunan/rumah,” kata Wawali.

Terpisah, Kepala Dinas Kesehatan Kota Salatiga, Siti Zuraidah, SKM, M.Kes menjelaskan bahwa berdasarkan data dari Kementerian Kesehatan, pada pertengahan Bulan Februari 2019 kemarin, tercatat jumlah penderita Demam Berdarah Dengue (DBD) di Indonesia mencapai 20.321 orang. Di mana Jawa Tengah berada pada peringkat ke lima, provinsi terbanyak penderita DBD.

“Di Kota Salatiga sendiri, sampai dengan akhir Februari 2019, terlaporkan 36 kasus positif DBD. Hal ini merupakan kejadian yang luar biasa, karena jumlah ini meningkat cukup tinggi dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya. Pada tahun 2018, kasus DBD terlaporkan sebanyak 29 kasus dan tahun 2017 sebanyak 18 kasus,” ujarnya.

Dijelaskan pula bahwa Kota Salatiga sudah ditetapkan pada status siaga DBD. “Dilihat dari angka kejadian tiga tahun berturut turut dapat dipetakan 8 kelurahan sebagai daerah endemis DBD yaitu Dukuh, Tegalrejo, Sidorejo Lor, Mangunsari, Ledok, Kauman Kidul, Tingkir Lor, dan Kecandran,” pungkasnya.

Dalam kesempatan tersebut, Wakil Walikota bersama Forkopimda berkenan menyebarkan ikan pemakan jentik nyamuk di Kolam Air Mancur Pemkot, menyebar larvasida di tanaman-tanaman yang berpotensi menjadi sarang nyamuk, serta mengecek bak penampungan air di Kompeks Pemkot. Tak lupa, salah satu ASN di Pemkot Salatiga juga ditunjuk menjadi kader pemburu jentik.(sg)