Walikota Salatiga Yuliyanto SE, MM, optimis kedepan sudah tidak ada lagi masyarakat Kota Salatiga yang Buang Air Besar Sembarangan (BABS). Sejak empat tahun lalu, Pemkot Salatiga bekerja sama dengan TNI dan Polri melakukan program jambanisasi dan rehab rumah tidak layak huni, sehingga ia yakin perilaku masyarakat saat ini sudah semakin modern dan berubah. Dari berbagai upaya itu pula, beberapa penghargaan telah diraih, diantaranya Indeks Pembangunan Kesehatan Masyarakat Salatiga yang mendapat peringkat kelima se-Indonesia.

“Bukan tujuan utama kami untuk mendapatkan penghargaan, tetapi bagaimana kami mengajak seluruh masyarakat Kota Salatiga untuk bersama-sama membangun manusia di Kota Salatiga, khususnya di bidang kesehatan. Terakhir, Salatiga mendapat peringkat IPKM kelima tingkat nasional, setelah empat peringkat teratas lainnya diraih oleh kabupaten kota di Bali. Di Jawa Tengah hanya Salatiga yang mendapatkan penghargaan tersebut,” papar Walikota, saat menyambut Tim Verifikasi Open Defecation Free (ODF) Provinsi Jawa Tengah untuk Salatiga, di Rumah Dinas Walikota, Selasa 06/08/2019.

Yuliyanto menegaskan, Pemkot Salatiga tetap konsisten pada prioritas pembangunan bidang pendidikan, kesehatan dan ekonomi kerakyatan. Di bidang kesehatan, langkah Pemkot adalah bagaimana membentuk perilaku masyarakat yang sehat dan lingkungan yang asri dengan  melibatkan masyarakat, PKK bahkan TNI Polri secara aktif dalam mewujudkannya. Dengan hadirnya Tim Verifikasi ODF ini, Walikota berharap bisa menambah semangat dan energi bagi pemerintahannya dalam menyelesaikan permasalahan, khususnya kesehatan masyarakat yang ada di Kota Salatiga.
“Pembangunan di Salatiga tanpa dibantu oleh seluruh lapisan masyarakat, OPD, TNI/Polri dan stakeholder lainnya, tidak akan berhasil. Sudah menjadi kebiasaan kami selalu melibatkan stakeholder yang ada di Salatiga, sehingga semuanya memiliki tanggung jawab yang sama,” tandasnya.

Walikota yakin, upaya Open Defecation Free ini bisa merubah perilaku masyarakat untuk tidak BAB sembarangan sehingga ke depan akan menjadikan Kota Salatiga yang disenangi masyarakatnya (lovable city) dan layak untuk ditinggali (livable city).

Sementara, Kabid Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah, Wahyu Setyaningsih M.Kes. Epid, selaku Ketua Tim Verifikasi ODF Salatiga Provinsi Jawa Tengah mengatakan bahwa Kota Salatiga akan menjadi Kabupaten/Kota ODF 100% ke-13 yang ada di Jawa Tengah. Ia belajar dari salah satu daerah di Provinsi Jawa Timur yang belum lama ini kalang kabut dengan adanya kasus kejadian luar biasa (KLB) Hepatitis A, dimana penyebab hampir seribu orang terjangkit tersebut disebabkan karena ODF yang tidak dilakukan dengan baik.

“Artinya, daerah ini sudah deklarasi ODF tapi tidak dipantau dan tidak dilanjutkan dengan pilar-pilar Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) yang lain. Jadi, ODF adalah pilar utama yang paling berat dalam STBM, karena merubah perilaku atau kebiasaan masyarakat BAB sembarangan di sungai untuk BAB ke jamban yang sehat adalah hal yang sangat sulit,” jelasnya.

Wahyu menuturkan, dengan buang air di jamban akan banyak sekali penyakit yang bisa diputuskan mata rantai penularannya, yang salah satu contohnya adalah Hepatitis A. Untuk itu, setelah Salatiga melakukan deklarasi ODF, harus dilanjutkan dengan melaksanakan pilar-pilar lain supaya menjadikan Salatiga sebagai Kota STBM.

Untuk melaksanakan verifikasi ODF di Salatiga ini, Wahyu Setyaningsih menurunkan sekitar 40 orang sebagai Tim Verifikasi Independen. Tim ini berasal dari lintas sektor, antara lain dari Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah, Dinas PU Bina Marga Cipta Karya, Dinas Lingkungan Hidup, Dispermadesdukcapil, Dinas Pendidikan, Biro Kesra, Biro Infrastruktur dan Sumber Daya Alam, UPT Balai Laboratorium Kesehatan dan Pengujian Alat Kesehatan, TP PKK Jawa Tengah, Himpunan Ahli Kesehatan Lingkungan Indonesia, UPTD Balai Kesehatan Masyarakat Wilayah Ambarawa, Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat (Pamsimas), Kabupaten Temanggung, Kabupaten Semarang, Kabupaten Kendal, dan Kota Magelang.