Sekretaris Daerah Kota Salatiga, Drs. Fakruroji, didampingi Kepala Dinas PU & PR Agung Hendratmiko, ST, MT, M.Si, memaparkan kesiapan Salatiga dalam pembuatan Taman Wisata Salatiga (TWS). Dikatakan Fakruroji bahwa pihaknya telah membentuk tim teknis dan tim administrasi, guna membangun taman wisata bersejarah di Salatiga yang rencananya akan direalisasikan pada Tahun 2022.

“Hari ini kami paparkan sejauh mana kesiapan dari Pemkot mengenai rencana pembuatan Taman Wisata Salatiga. Kami sudah anggarkan di APBD Perubahan Tahun 2019 dan telah membentuk tim untuk mempersiapkan pembangunan tersebut,” tandas Fakruroji saat menerima kunjungan Sekretaris Jenderal (Sekjen) Kementerian Pertahanan RI, Laksamana Madya TNI Agus Setiadji, SAP, MA, terkait pembangunan TWS, di Rumah Dinas Walikota, Jl. Diponegoro 1 Salatiga, Sabtu 12/10/2019. Hadir pula Ketua DPRD beserta jajarannya, Danrem 073 Makutarama, Forkopimda, dan IKA SMANSA.

Sementara itu, Agung Hendratmiko menjelaskan, TWS akan dibangun di atas lahan seluas 4 hektar di Kelurahan Bugel Kecamatan Sidorejo. Taman wisata yang dilengkapi dengan museum sejarah pahlawan nasional ini, akan dilengkapi dengan Alat Utama Sistem Pertahanan (alutsista) yang digunakan oleh tiga pahlawan nasional asal Salatiga, yakni Komodor Yos Sudarso, Laksamana Adi Sucipto dan Brigjen Sudiarto.

“Tahap pertama pembangunan TWS sudah dianggarkan melalui APBD Perubahan Tahun 2019 sebesar Rp 1,9 milyar. Dana tersebut akan digunakan untuk pembuatan jalan kendaraan berat sebagai sarana pengiriman alutsista, pondasi patung tiga pahlawan nasional dan pondasi alutsista,” terang Agung.

Adapun, alutsista yang akan dipajang di TWS adalah replika kapal macan tutul, pesawat cureng, meriam, tank, panser dan ranjau laut yang saat ini sudah dalam proses lelang. Selain alutsista, diusulkan juga untuk ditambah replika bola dunia dan lapangan atau alun-alun, untuk mengganti pusat keramaian dari Lapangan Pancasila ke TWS. Lokasinya yang bersebelahan dengan jalan tol menuju Semarang 

sangat memungkinkan alutsista dan museum sejarah di TWS dapat terlihat jelas dari jalan tol.

Sementara, Sekretaris Jenderal (Sekjen) Kementerian Pertahanan RI, Agus Setiadji, menjelaskan bahwa alutsista merupakan senjata yang digunakan oleh militer sebagai kekuatan tempur yang bersifat strategis, dan mempunyai nilai dalam memenangkan peperangan. Menurutnya, cukup banyak putra-putra terbaik nasional dari Kota Salatiga, yang bisa menjadi ikon Kota Salatiga sebagai Kota Pahlawan.

“Saya sudah menghadap KSAD, KSAU, KSAL dan mereka semua setuju. KSAL saat ini sedang membangun kapal di Batam dalam bentuk replika KRI Macan Tutul dan kapal meriam yang dipakai saat perang, 2 buah tank, dan pesawat yang mirip dengan aslinya. Jika Taman Wisata Sejarah ini nanti terbentuk, maka orang-orang akan tahu seperti apa alutsista yang digunakan oleh para pahlawan nasional dari Salatiga. Mari kita dorong generasi muda Salatiga agar mencintai tanah airnya, mencintai tanah kelahirannya tanpa harus dicekoki model pendidikan normatif,” jelas Agus.

Dengan adanya konsep taman wisata bersejarah tersebut, diharapkan supaya masyarakat, khususnya anak-anak, bisa memiliki gambaran tentang Kota Salatiga, juga para pahlawan dan generasi pendahulunya. Agus pun menyarakan agar pembangunan TWS tidak mengandalkan APBD saja, tetapi juga melibatkan pengusaha dan masyarakat setempat hingga UMKM.

“Jangan berpikir bahwa hanya kita yang tahu dan jangan pernah mengandalkan APBD semata. Karena jika hanya mengandalkan APBD, maka konsep ini tidak akan pernah terwujud. Ingat, biaya pemeliharaan cukup besar. Sehingga, jangan sampai museum bersejarah ini menjadi museum tinggal sejarah,” tegasnya. Lebih jauh ia menyarankan kepada tim pembangunan TWS untuk menyediakan fasilitas bagi kaum difabel, juga agar menitikberatkan pada “Salatiga untuk semua dan semua untuk Salatiga”.