Jakarta – Kota Salatiga kembali mendapatkan piala Adipura kategori kota sedang untuk ketiga kalinya. Capaian ini merupakan hasil kerja bersama dan adanya kesadaran masyarakat yang  baik terhadap lingkungan.

“Saya senang atas raihan ini. Namun piala adipura bukan merupakan tujuan tapi bagaimana seluruh masyarakat salatiga bisa memberikan kontribusi dan partisipasi penuh di dalam pembangunan kota salatiga. Hal ini penting, agar bisa menjaga kebersihan, mengurangi sampah, menjaga kelestarikan lingkungan sehingga perilaku masyarakat menjadi lebih baik,” Jelas Yuliyanto SE MM saat menerima piala Adipura yang diserahkan oleh Wakil Presiden RI Jusuf Kalla didampingi Menteri Lingkungan Hidup di Gedung Manggala Wanabakti Jakarta, Senin (14/01). Menurutnya kesadaran masyarakat harus terus kita jaga, karena sangat mendukung adanya keterlibatan publik dan semua stakeholder dalam upaya pencapaian piala Adipura tersebut.

“ Yang tidak kalah pentingnya adalah masyarakat akan sadar dengan sendirinya akan arti pentingnya lingkungan hidup yang  bersih, hijau dan berkelanjutan, “ Imbuhnya.

Sementara itu, Prasetyo Ichtiarto, Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH)  Kota Salatiga mengatakan bahwa dengan dirahnya piala Adipura ini merupakan perjuangan dan semangat dari seluruh skpd, kecamatan, kelurahan, swasta, masyarakat, dan seluruh stakeholder. Menurutnya, penghargaan ini sangat kompetitif dan ketat, pasalnya dari 514 kab/ kota se Indonesia hanya terpilih 119 kabupaten/kota yang menerima Adipura, dan kota Salatiga mendapatkan peringkat ke-21.

“ ini merupakan prestasi yang membanggakan bagi masyarakat yang juga terkenal dengan kota tertoleransi nomor dua di Indonesia. Di tingkat provinsi Jawa Tengah saja, dari total 35 kab/kota yang menerima penghargaan Adipura hanya 12 kab/ kota,” Tuturnya.

Kota Salatiga telah mendapatkan adipura yakni pada 2015 yakni sertifikat adipura, 2016 adipura kirana, 2017 dan 2018 adipura. Adapun tingkatannya yakni adalah dari plakat adipura, sertifikat adipura, adipura, dan adipura kencana.

Sebagai informasi raihan adipura ini didapatkan karena adanya komitmen dari kepala daerah yang selalu mendukung dan membantu dalam setiap program Adipura, kemudian adanya partisipasi aktif dari seluruh stakeholder yang ikut terlibat, yang ketiga adalah adanya keberadaan TPA yang sanitary landfiel, dimana gas metan sudah dimanfaatkan warga untuk energi gas, fasilitas jembatan timbang, gudang daur ulang, mesin membuat pupuk kompos dan taman TPA yang asri. Keempat, adanya penyusunan dokumen Jastrada (kebijakan dan strategis) pengelolaan sampah baik pengurangan dan penanganan sampah yang tepat waktu. Kemudian adanya penataan kota terkait penghijauan, trotoar, asesori lampu hias yang semakin baik. Keenam penataan tempat pengumpulan sementara sampah (TPS3R) yang dilakukan dengan metode 3R. Kemudian adanya ruang hijau terbuka (RTH) yang semakin bertambah dari 15 persen naik menjadi 16,5 persen dari yang ditargetkan 30 persen dengan bertambahnya fasilitas taman kota. Kemudian adanya bank sampah induk dan bertambahnya bank sampah menjadi 46 yang berada di tiap kevamatan dan kelurahan. Lalu adanya tempat sampah dengan tiga kompartemen (organik, anorganik, dan sampah lainnya). Dan yang terakhir adanya pengelolaan perairan terbuka (sungai) yang bersih dan dapat dimanfaatkan warga untuk usaha perikanan.