Salatiga – Upaya untuk merubah paradigma negatif masyarakat terhadap para penderita HIV-AIDS perlu ditingkatkan. Mereka harus dirangkul dan diberikan pendampingan agar penularan virus ini tidak meluas.

“ Jumlah penderita HIV-AIDS berdasar pekerjaan di kota Salatiga secara berturut-turut yaitu wiraswasta, karyawan swasta, wanita pekerja seks, pemandu karaoke dan ibu rumah tangga. Namun  data meningkat  pada masyarakat umum terutama di karyawan swasta dan ibu rumah tangga,” Kata Walikota Salatiga Yuliyanto SE MM saat memberikan sambutan pada Peringatan Hari AIDS  sedunia di Salatiga yang digelar di Taman Bendosari, Jumat (14/12). Menurutnya, ini menjadi keprihatinan bersama, namun mereka yang merupakan penderita HIV-AIDS harus tetapn dilindungi dan diberi arahan. Agar mereka paham dan sadar tentang bagaimana untuk menyikapinya dengan baik.

“ Saya harap dengan peringatan ini bisa menjadi momentum gerakan masyarakat untuk peduli HIV, memahami pentingnya melakukan tes HIV sejak awal untuk segera mendapatkan pengobatan.  Selain itu, juga untuk merubah paradigma negatif masyarakat tentang HIV-AIDS dari penyakit menakutkan,” Ungkapnya.

Peringatan Hari AIDS sedunia diperingati setiap tanggal 1 Desember tiap tahunnya. Kegiatan ini bertujuan untuk menumbuhkan kesadaran terhadap penyebaran HIV-AIDS di seluruh lapisan masyarakat, sehingga dapat mencegah penularan HIV.  Menurutnya, tahun ini mengusung tema “saya berani, saya sehat” menjadi sangat relevan untuk mengurangi resiko penularan virus HIV-AIDS, meningkatkan kesadaran dan  kepedulian seluruh masyarakat terhadap pencegahan penularan HIV-AIDS.

“ Mereka harus berani mengakses layanan kesehatan untuk melakukan tes HIV agar bisa di cek di awalnya,”  Tuturnya.

Orang nomor satu di Salatiga ini menambahkan bahwa kita harus bergerak bersama untuk  mendorong percepatan penurunan epidemi HIV. Ada tiga faktor yakni tidak ada infeksi baru HIV, tidak ada kematian akibat AIDS dan tidak ada stigma dan diskriminasi pada orang HIV-AIDS.

“ Apabila ini dilaksanakan dengan baik, maka strategi Temukan Obati Pertahankan (TOP) untuk mencapai eliminasi HIV-AIDS pada tahun 2030 mendatang dapat dicapai, “Pungkasnya.

Perlu diketahui bahwa perkembangan HIV–AIDS hingga kini masih menjadi masalah kesehatan masyarakat global termasuk Indonesia, bahkan telah menjangkit di lebih dari 85% dari total Kabupaten/Kota di Seluruh Indonesia. Di kota Salatiga sendiri sejak ditemukan kasus HIV-AIDS pada tahun 1994 hingga November tahun 2018, jumlah kasus HIV-AIDS kumulatif mencapai 268 kasus yang terdiri dari 169 kasus laki-laki dan 99 kasus perempuan dengan jumlah kematian sebanyak 68 kasus. Peringatan HIV-AIDS 2018 di Kota Salatiga di tandai dengan dilepaskannya burung merpati ke udara sebagai sebuah simbol. Selain itu, dihadiri oleh Kapolres Salatiga, Sekda Kota Salatiga, Kepala Dinas, Asisten, dan masyarakat.