Balaikota – Membatik diusulkan menjadi salah satu muatan lokal(mulok) kota pada jenjang sekolah di kota Salatiga. Pengenalan membatik dianggap perlu agar anak didik mampu mengetahui dan mengerti proses dalam membatik secara bertahap.

Hal tersebut disampaikan Walikota Salatiga, Yuliyanto, SE., MM saat membuka Workshop Kebijakan Pendidikan Kota Salatiga Tahun 2018, di ruang Kaloka Gedung Setda Lantai IV, Senin(7/3). Menurutnya, keanekaragaman budaya, adat istiadat  dan kesenian daerah merupakan aset  berharga yang memperkaya nilai-nilai kepribadian bangsa. Kita harus melestarikan dan mengembangkannya melalui dunia pendidikan mulai dari usia SD sampai SMA salah satunya yakni membatik. Kita tahu bahwa muatan lokal menjadi salah satu kajian untuk peserta didik agar memberikan  pengetahuan dan pemahaman atas adanya kebudayaan lokal di sebuah wilayah. Di kota Salatiga sendiri memiliki batik plumpungan yang memiliki nilai historis dan telah  menjadi identitas dari kota Salatiga.

“ Saya harap membatik bisa menjadi muatan lokal dalam kurikulum pembelajaran sejak SD, SMP sampai  SMA. Sehingga perlu untuk  menjaga kelestarian  batik tersebut,” Katanya.

Yuliyanto menambahkan bahwa dalam workshop ini diharapkan ada pembahasan, pengenalan, perumusan, kontribusi langsung tentang belajar membatik, untuk dijadikan muatan lokal kurikulum pembelajaran sejak jenjang SD sampai SMA. Media membatik menjadi suatu muatan lokal untuk sekolah di kota Salatiga, dimana membatik menjadi media untuk  nguri-uri kebudayaan lokal. Meskipun membatik merupakan hal yang sedikit rumit namun dengan belajar, hal tersebut bisa dilakukan.  Diharapkan  anak-anak nantinya bisa menambah keingintahuannya dan terlatih dalam menyelesaikan karya batiknya.

“ Batik menjadi sebuah penghargaan terhadap budaya lokal. Dengan dimasukkannya batik ke muatan lokal sekolah, Saya ingin lebih mengenalkan batik di semua tahapan sekolah secara bertahap dan berjenjang,” Tambah  Yuliyanto

Nur Purwono, M.Pd dari Dinas Pendidikan Kota Salatiga menjelaskan tentang adanya progres, mekanisme dan tahapan dalam pemberlakuan kurikulum muatan lokal di Salatiga. Muatan lokal seperti membatik menjadi bahan kajian bersama untuk memberikan pengetahuan anak didik terhadap potensi di kota Salatiga. Sehingga pemahaman atas semua proses ini menjadi hal yang perlu dilakukan agar kompetensi dasar terhadap muatan lokal bisa dilakukan dengan baik.

“ Proses pemberlakuan muatan lokal terhadap membatik ini perlu dilakukan, agar proses dan pemahamannya bisa tepat dan dimengerti oleh anak didik,” Jelasnya.

Sementara itu, Dr. Miftahuddin selaku Ketua Dewan Pendidikan Kota Salatiga mengatakan bahwa kegiatan ini adalah tindaklanjut dari workshop sebelumnya. Salah satunya adalah mengusulkan muatan lokal membatik sebagai budaya lokal kota Salatiga dan telah sesuai dengan implementasi kurikulum muatan lokal berdasarkan pada aturan Permendikbud 79/2014.

“ Implementasi muatan lokal membatik harus bertahap. Lanjutnya adalah menyusun naskah akademik dan dimasukkan kedalam data pokok pendidikan(dapodik) pada dinas pendidikan,” Tutur Miftahudin.

Praktisi Batik Kota Salatiga, Tjondrosawarno, S.SN juga menyampaikan tentang  bagaimana membatik secara benar. Teknik pengajaran dalam membatik juga dilakukan secara berbeda dan berkelanjutan mulai dari anak SD, SMP sampai tingkat SMA dengan kelengkapan dan kebutuhan yang dipersiapkan saat akan membatik nantinya.

“ Membantik menjadi wadah ekspresi, teknik dan caranya ada kiat-kiatnya sendiri. Kalau kita lakukan secara bertahap anak-anak sekolah nantinya akan mudah memahaminya, “ Ujarnya.

Kegiatan workshop kebijakan pendidikan Kota Salatiga Tahun 2018 diikuti oleh 160 peserta yakni para guru ektrakulikuler, guru seni budaya berasal dari SD-MI, SMP-MTS, SMA-MA, SMK  Se-Kota Salatiga. Workshop ini merupakan tindaklanjut kegiatan pendidikan berbasis muatan lokal yang telah dilaksanakan tahun 2017 lalu, kemudian sebagai bahan kajian terhadap pendidikan muatan lokal tersebut.