Wali Kota Salatiga, Yuliyanto SE,MM, didampingi Kepala DP3A, Kepala Bapelitbangda, Kabid PAUD dan PNF Dinas Pendidikan, serta Forum Anak Kota Salatiga (Rumanksa), menyambut kunjungan Komisi C DPRD dan Kepala DP3A Kota Pekalongan di Rumah Dinas Wali Kota, Jln. Diponegoro 1 Salatiga, Selasa (28/01/2020).

Kunjungan rombongan yang diketuai oleh Ketua Komisi C DPRD Pekalongan, Makmur Sofyan Mustofa di Pemkot Salatiga ini, bermaksud untuk studi tiru terkait kebijakan perlindungan anak untuk diadopsi di Kota Pekalongan.

Yuliyanto menuturkan, Kota Salatiga sebagaimana visi dan misi pada RPJMD Periode Tahun 2011-2016, sangat concern terhadap perlindungan anak dan pemberdayaan perempuan. Karena itu, infrastruktur yang dibangun dalam periode tersebut meliputi tiga bidang, yakni pendidikan (wasis), kesehatan (waras) dan UMKM (wareg). Dilanjutkan pada periode tahun 2017-2022, pasangan incumbent ini menambah pembangunan wajah kota disamping tiga bidang pembangunan pada periode sebelumnya, yang meliputi pedestrian, taman, trotoar dan revitalisasi Alun-Alun Pancasila Salatiga.

Yuliyanto menyadari, Salatiga tidak memiliki sumber daya alam yang berpotensi menjadi tujuan pariwisata dan Ruang Terbuka Hijau (RTH). Karena itu, untuk mencapai RTH 30 persen, Pemkot Salatiga menggalakkan pembangunan taman, hutan kota dan stadion mini di tiap kecamatan sebagai ruang rekreasi, interaksi, olahraga dan bermain bagi masyarakat, khususnya anak-anak.

“Bahkan saat ini di Taman Tingkir telah didirikan taman bermain khusus anak-anak yang dinamakan Corner Learning Center dan mendapat sertifikasi dari Kementerian P3A. Hal tersebut sangat berguna dalam mengantisipasi perkembangan teknologi informasi yang kurang baik melalui smartphone pada anak,” papar Yuliyanto.

Pembangunan di tiga bidang tersebut sangat berdampak baik sehingga secara luar biasa mampu menurunkan angka kemiskinan dari 10 persen menjadi 4,8 persen, dan diharapkan berangsur turun hingga 3,5 persen. Ditambah lagi dengan program Guyub RW hingga mencapai 50 juta rupiah per tahun, yang diharapkan bisa menampung  kebutuhan kegiatan masyarakat di tingkat RW, termasuk penyediaan ruang baca bagi anak-anak.

Sementara, di bidang pendidikan, lanjut Yuliyanto, sesuai amanat Undang-Undang adalah 20 persen APBD, namun di Salatiga dialokasikan dana pendidikan hampir 40 persen APBD. Sehingga angka kemiskinan di Kota Salatiga ini berada pada posisi terendah kedua, dan angka Indeks Pembangunan Manusia berada pada posisi tertinggi kedua di Jawa Tengah.

Yuliyanto menuturkan, dari 23 kelurahan di Salatiga, ada tujuh kelurahan yang dinyatakan memiliki rapor merah. Untuk itu saat ini ketujuh kelurahan tersebut sedang dikeroyok oleh dinas-dinas terkait supaya angka kemiskinan dapat berangsur turun.

“Semoga ini bisa diadopsi di Pekalongan dalam upaya memberikan ruang pada anak-anak dan mengentaskan kemiskinan, sebagai bagian dari komitmen pemerintah dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat,” ujarnya.

Pada kesempatan tersebut, Wali Kota Salatiga mengenalkan beberapa makanan khas di Kota Salatiga dan menerima kenang-kenangan kain batik khas Pekalongan.

 

0