Kerukunan antar umat beragama di Salatiga ternyata menarik perhatian tidak hanya dari berbagai daerah di Indonesia, tapi juga perhatian dari Kementrian Koordinator Bidang Politik Hukum dan Keamanan (Kemenko Polhukam) RI. Hal tersebut disampaikan oleh Asisten Deputi 2/VI Bidang Kesatuan Bangsa Kemenko Polhukam RI, Drs. Kusnaidi saat melakukan kunjungan kerja ke Kota Salatiga, Jumat 14/07.

Tim dari Kemenko Polhukam ini diterima di Gedung Setda dan disambut langsung oleh Walikota Salatiga, Yuliyanto beserta jajaran Forkopimda Kota Salatiga, Komandan Korem 073 Makutarama, Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kota Salatiga, Badan Kerjasama Gereja Salatiga (BKGS), Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Salatiga, serta Organisasi Perangkat Daerah terkait.

Dalam sambutannya, Drs. Kusnaidi mengatakan bahwa saat ini Kemenko Polhukam tengah membuat rancangan Peraturan Presiden (Perpres) tentang Dewan Kerukunan Umat Beragama. “Konsep tentang perpres tersebut tengah digodok. Sebagai aparat, kita haruslah dalam posisi pelayan masyarakat yang bisa berdiri diatas semua golongan. Hal inilah yang membuat kami tertarik untuk belajar tentang pengelolaan kerukunan umat beragama di Salatiga. Karena kami sudah mendengar bahwa kerukunan di sini sangat bagus,” ungkap Asisten Deputi 2/VI Kemenko Polhukan RI.

Selain itu, tim yang terdiri dari 4 pejabat Kemenko Polhukam ini juga tertarik akan penyelesaian masalah kerukunan serta memberikan apresiasi terhadap kekompakan pimpinan daerah di Kota Salatiga. “Kekompakan pimpinan daerah di Salatiga ini sangat baik. Hal ini tentu saja mempengaruhi kerukunan masyarakat,” kata Drs. Kusnaidi.

Menjawab pertanyaan tersebut, Walikota Salatiga mengatakan bahwa kerukunan di Salatiga senantiasa terjaga karena peran besar dari para tokoh agama, tokoh masyarakat, berbagai organisasi masyarakat, pimpinan daerah dan partisipasi masyarakat. “Kami sebagai pimpinan daerah selalu menjaga komunikasi dengan tokoh agama, tokoh masyarakat, berbagai LSM, ormas,” jelas Yuliyanto.

Dengan sekitar 40 etnis dan sekitar 340 warga asing yang tinggal di Salatiga membuktikan bahwa kota Salatiga selalu berupaya untuk menjadi kota yang lovable (menarik) dan livable (nyaman ditinggali). “Kota ini dikenal juga sebagai Indonesia mini, karena begitu banyaknya etnis yang ada di Kota ini. Kami mempunyai kultur toleransi yang sudah terjaga sejak dulu dan akan selalu kami jaga bersama,” papar Walikota.  (sg)