Salatiga – Kasus Tuberkulosis (TBC) di Kota Salatiga berdasarkan data dari Dinas Kesehatan Kota Salatiga sampai pada triwulan ketiga tahun 2019 sebanyak 319 kasus TBC. Angka ini lebih rendah dibandingkan dengan tahun lalu sebesar 348 kasus.

Menurunnya angka kasus TBC tidak serta merta membuat perhatian terhadap kasus tersebut diturunkan. Melainkan dengan menurunnya kasus ini pemerintah Kota Salatiga justru harus tetap waspada dan terus menemukan potensi yang lain.

“Meskipun angka turun kita harus tetap waspada karena masih ada kemungkinan adanya kasus TBC yang belum teridentifikasi dan adanya potensi penularan,”jelas Sekda Kota Salatiga Drs Fakruroji saat membuka Sosialisasi Perwali Rencana Aksi Daerah Tuberkulosis (RAD TB) Kota Salatiga Tahun 2019 di Ruang Plumpungan Gedung Setda Lantai 4, Kamis (21/11).

Lanjutnya, Sekda menjelaskan bahwa penanggulangan TBC membutuhkan penanganan secara bersama-sama dan dibutuhkan komitmen yang kuat antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah. Sehingga harus diwujudkan dengan upaya yang sungguh-sungguh dari lintas sektoral tersebut.

“Rencana aksi ini harus rill untuk menangangin kasus TBC yang ada,”tandasnya.

Fakruroji berharap kasus tersebut pada tahun depan bisa teridentifikasi secara keseluruhan sehingga bisa dilakukan penanganan yang cepat. Diharapkan dengan kegiatan ini ada dukungan dari berbagai pihak menangani masalah TB sehingga di tahun 2030 nanti Kota Salatiga bisa bebas dari TBC dan guna mendukung program nasional bebas TBC tahun 2050.

“Peran dari Dinas Kesehatan Kota Salatiga bisa melakukan upaya pencegahan identifikasi, dan penyembuhan TBC secara tuntas. Namun apabila tidak ditangani dengan baik penderita bisa berubah menjadi resisten obat,”pungkasnya.