Walikota Salatiga, Yuliyanto SE, MM, memberikan apresisasi dan ucapan selamat atas diresmikannya Kampung KB Kauman Kidul sebagai Kampung KB Unggulan. Ia berharap keberadaan Kampung KB Unggulan ini mampu meningkatkan kualitas Kampung KB lainnya, melalui peningkatan sinergitas pelaksanaan pembangunan program kependudukan, keluarga berencana dan pembangunan keluarga serta pembangunan sektor terkait bersama dengan mitra kerja.

“Dengan adanya kampung KB unggulan di Kauman Kidul ini, diharapkan dapat meningkatkan komitmen semua perangkat daerah serta dapat memberikan inspirasi, motivasi dan mampu menjadi contoh bagi kampung KB yang lainnya,” tandas Walikota saat mencanangkan Kampung KB Kauman Kidul sebagai Kampung KB Unggulan atau Central of Excellence (COE) Kampung KB di Kota Salatiga Tahun 2019, Rabu 24/04/2019.

Dikatakan Walikota Salatiga, Kampung KB merupakan lokus dari upaya pemerintah untuk membangun keluarga yang sejahtera, yang tidak hanya dimaknai sebagai upaya pengendalian kelahiran, tetapi juga membangun kesadaran setiap keluarga agar memiliki dukungan sosial, budaya, ekonomi, pendidikan dan kesejahteraan yang memadai.

Di Kota Salatiga, Kampung KB pertama kali dicanangkan pada bulan April 2016 dan hingga saat ini sudah berkembang hingga lima lokasi, yakni RW V Bonorejo Kelurahan Blotongan, RW IV Sawahan Kelurahan Kecandran, RW IV Ngronggo Kelurahan Kumpulrejo, RW V Surowangsan Kelurahan Kauman Kidul dan RW V Krajan Kelurahan Tingkir Lor.

Seperti diungkapkan Kepala Dinas Pengendalian Penduduk dan KB Kota Salatiga, Sri Sarwanti SH bahwa dari lima kampung KB tersebut, yang layak menjadi COE atau kampung KB unggulan adalah kampung KB di RW V Kauman Kidul. Kriteria kampung KB unggulan adalah tingginya tingkat partisipasi masyarakat, meningkatnya jumlah peserta KB, meningkatnya institusi masyarakat, pusat informasi dan konseling remaja, serta meningkatnya peran lintas sektoral

Sementara itu, Kepala Perwakilan BKKBN Jawa Tengah, Wagino SH, Msi, mengungkapkan bahwa, permasalahan utama di lapangan sejak dicanangkannya kampung KB adalah tidak adanya kegiatan yang berkelanjutan setelah pencanangan. Hal itu disebabkan oleh beberapa faktor, diantaranya kurangnya pemahaman pemangku kepentingan di setiap level akan konsep kampung KB, serta tidak adanya penggerak masyarakat untuk berpartisipasi aktif dalam kampung KB, termasuk tidak adanya dukungan dari lintas sektor.

“Pastikan semua warga di Kampung KB ini memiliki e-KTP, KK, Akte Kelahiran, BPJS dan tidak ada remaja putri di bawah 16 tahun yang menikah,” tegas Wagino.

Dikatakannya bahwa, kampung KB unggulan adalah kampung KB yang sudah mengimplementasikan program pemerintah, yaitu mempunyai inovasi strategis dan menjalankan semua program KKBPK secara utuh, yang melibatkan semua stakeholder dan bersinergi dengan mitra kerja,baik pemerintah maupun swasta.

”Dengan dicanangkannya kampung KB Kauman Kidul sebagai Kampung KB Unggulan, saya harap berbagai program yang telah berhasil di kampung KB ini bisa menjadi contoh bagi kampung KB lain di Salatiga maupun luar daerah. Yang luar biasa di Kota Salatiga, dan saya harap daerah lain dapat ikut mencontoh adalah, Pemerintah Kota Salatiga mampu menekan angka kematian ibu akibat melahirkan. Selama tahun 2018, tercatat hanya tiga kasus kematian ibu, 20 kematian bayi dan 23 kematian balita. Ini luar biasa jika dibanding dengan daerah-daerah lain. Dan hanya perguruan tinggi di Salatiga, yakni IAIN yang mengajarkan pra nikah dan paca nikah kepada mahasiswanya, bahkan menjadi mata kuliah wajib,”ungkap Wagino.