TINGKIR- Sesuai Visi Salatiga Hati Beriman yang SMART, Pemerintah terus berupaya membenahi berbagai sarana dan prasarana untuk mewujudkan Kota Salatiga yang aman, nyaman, sejuk, asri, dan modern. Salah satunya yakni dengan berupaya memenuhi kebutuhan dasar masyarakat dalam penyediaan air minum, sanitasi, dan perilaku hygiene masyarakat Kota Salatiga. Hal ini juga sesuai dengan target Universal Access 100 – 0 – 100 , yakni 100% cakupan akses air bersih, 0% kawasan kumuh, dan 100% cakupan akses sanitasi.

            Sebagaimana disampaikan Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Salatiga, Drs Prasetyo Ichtiarto, M.Si saat menyampaikan sambutan Walikota dalam Gebyar Pesona Salatiga (Gerakan Bersama Masyarakat untuk Peduli Sanitasi dan Air Minum Kota Salatiga) di Aula Kantor Kecamatan Tingkir, Kamis, 14/03, dalam pelaksanaan program Universal Access 100-0-100, Pemerintah Kota Salatiga telah melaksanakan kerjasama dengan Indonesian Urban Water, Sanitation and Hygiene Penyehatan Lingkungan Untuk Semua  (IUWASH PLUS), Program Kota Tanpa Kumuh (KOTAKU), dan dunia usaha swasta yang ada di Kota Salatiga.

Berbagai program pembangunan yang dilaksanakan pemerintah bersama seluruh masyarakat Kota Salatiga telah banyak membuahkan hasil yang sangat baik. Pada akhir tahun 2018, prosentase cakupan akses air bersih telah mencapai 87%. Sedangkan, cakupan akses sanitasi dengan menggunakan Jamban Sehat Permanen (JSP) mencapai 85%. Sementara untuk akses Jamban Sehat Semi Permanen (JSSP) sebesar 7,62%, dan yang masih menumpang di jamban orang lain/ MCK Umum sebesar 7,38 %.

“Kedepan saya berharap peran dunia usaha swasta dapat semakin meningkat salah satunya melalui mekanisme Coorporate Social Responsibility (CSR), tidak hanya untuk penanganan air minum, sanitasi dan perilaku hygiene, tetapi juga untuk penanganan dibidang lainnya,” kata Prasetyo.

Dalam mekanisme perencanaan pembangunan, pemerintah Kota Salatiga telah berupaya melibatkan peran serta masyarakat untuk menyerap aspirasi masyarakat melalui berbagai sarana seperti Musrenbang Kelurahan, Musrenbang Kecamatan, Musrenbang Kota, Focus Group Discussion (FGD), Konsultasi Publik dan Lainnya. Tim Monev Partisipatif juga merupakan salah satu contoh konkrit keterlibatan masyarakat dalam pembangunan dibidang air minum, sanitasi, dan perilaku hygiene.

“Saya memberikan apresiasi dan ucapan terimakasih  kepada USAID IUWASH PLUS yang sejak Tahun 2017 telah banyak melaksanakan kegiatan kemitraan bersama pemerintah Kota Salatiga untuk meningkatkan akses air minum dan sanitasi, serta perbaikan perilaku hygiene bagi masyarakat miskin dan kelompok rentan di Kota Salatiga sebagai bagian dalam upaya mencapai target Universal Access Tahun 2019 dan SDG’S,” tandasnya.

Selain itu, Walikota juga memberikan apresiasi kepada masyarakat yang tergabung dalam tim monitoring dan evaluasi (monev) partisipatif di wilayah hotspot, yakni Kelurahan Sidorejo Kidul, Kutowinangun Lor, Kutowinangun Kidul, Salatiga, dan Pulutan yang telah bekerja secara sukarela melakukan pendataan dan pemetaan lingkungan, melakukan pemicuan secara partisipatif bersama dinas terkait, melakukan rembuk warga, dan evalusi kegiatan dalam pemecahan permasalahan untuk membawa kondisi lingkungan yang lebih baik.

“Saya berharap, dengan dilaksanakannya pertemuan dengan para pemangku kepentingan ini dapat memberikan semangat kepada Tim Monev Partisipatif bersama para pihak terkait untuk dapat menyelesaikan berbagai permasalahan di lingkungan, khususnya masalah air minum, sanitasi, dan perilaku hygiene sehingga program ini dapat direplikasikan untuk wilayah lain di luar lokasi hotspot secara kontinyu dan periodik oleh masyarakat,” tutur Walikota menutup sambutan yang disampaikan melalui Kepala Dinas Lingkungan Hidup tersebut.

Regional Manager USAID IUWASH Plus, Jefri Budiman mengungkapkan bahwa Pemerintah Kota bersama organisasi pemerintah daerah (OPD) terkait sudah melakukan visioning workshop sejak tahun lalu dan bertekad mencapai target Universal Access 100 – 0 – 100 tersebut. Dalam upaya mencapai target tersebut, pemerintah mengajak serta masyarakat untuk secara aktif melakukan monitoring evaluatif. Sebab, keberlanjutan prasarana air bersih dan sanitasi ini tidak akan bisa dinikmati secara berkelanjutan oleh masyarakat jika tidak ada kemampuan pemeliharaan dan operasi yang baik oleh masyarakat.

“Kenapa  harus bersama masyarakat, karena sistem air minum dan sanitasi ini sebagian masih harus dikelola oleh masyarakat. Menyadari hal itu, maka IUWASH Plus bersama Pemerintah Kota Salatiga menginisiasi pembentukan grup online partisipatif yang ditunjuk oleh masyarakat untuk monitoring dan evaluasi kegiatan pembangunan atau akses air minum dan sanitasi di wilayah mereka masing-masing. Kami mulai dari lima kelurahan sebagai pilot project untuk bahan pembelajaran kita bersama supaya bisa dilanjutkan berikutnya di kelurahan-kelurahan lainnya,” terang Jefri.

Jefri menambahkan, bahwasanya masyarakat telah bekerja dengan luar biasa dalam upaya peningkatan kesehatan di lingkungan mereka, mulai dari penghijauan, pemetaan sosial, kegiatan rembug warga yang menyepakati pemenuhan akses air minum secara swadaya. Melalui pertemuan Gebyar Pesona Salatiga ini diharapkan menjadi media bagi masyarakat untuk menyampaikan apa yang sudah dilakukan dan apa saja hal-hal yang bisa dirembug oleh semua pihak.