SALATIGA – Pemkab dan Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kabupaten Majalengka Provinsi Jawa Barat sengaja mengunjungi Kota Salatiga untuk belajar tentang toleransi. Predikat 3 kali sebagai Kota Toleran se-Indonesia dari Setara Institute For Democray and Peace membuat Pemkab Majalengka berkeinginan untuk saling berbagi tentang toleransi di Kota Salatiga.

Hal ini disampaikan oleh Asisten Perekonomian dan Pembangunan Sekda Kabupaten Majalengka, Drs. Abdul Gani, M.Si saat menyampaikan maksud dan tujuan kunjungan Pemkab dan FKUB Kabupaten Majalengka di Kota Salatiga. Kunjungan tersebut diterima langsung oleh Walikota Salatiga, Yuliyanto di Rumah Dinas Walikota Salatiga, Kamis 07/02.

“Capaian Kota Salatiga sebagai Kota ter-Toleran selama 3 kali ini membuat kami penasaran, apa resepnya sehingga Kota Salatiga bisa menjadi kota toleran. Karenanya hari ini kami bersama dengan FKUB Kabupaten Majalengka sengaja hadir di Salatiga untuk belajar tentang hal tersebut. Kami juga tertarik tentang bagaimana membuat kebijakan dan langkah-langkah untuk mendukung hal tersebut. Selain itu kunjungan ini juga dimaksudkan untuk menjalin hubungan persahabatan antar daerah,” papar Asisten Asisten Perekonomian dan Pembangunan Sekda Kabupaten Majalengka ini.

Sementara itu Walikota Salatiga, Yuliyanto SE, MM dalam sambutannya menyampaikan rasa terimakasih atas apresiasi yang disampaikan oleh Pemkab Majalengka. Walikota mengatakan bahwa capaian Kota ter-Toleran tersebut adalah karena peran seluruh stakeholder, tokoh agama, tokoh masyarakat, Forkopimda dan juga seluruh elemen masyarakat Kota Salatiga yang senantiasa menjaga kondusifitas kota.

“Ada lebih dari 30 etnis dan sekitar 300 WNA dari berbagai negara tinggal di Kota Salatiga ini. Pembangunan di Kota Salatiga fokus pada pembangunan pendidikan, kesehatan dan juga UMKM. Utamanya pada periode pertama Yuliyanto – Haris memang difokuskan pada pembangunan manusia. Tiga hal tersebut akan menghasilkan masyarakat yang wasis (cerdas), waras (sehat) dan wareg (sejahtera) dan kesemuanya tersebut ternyata berimbas pada tingkat toleransi masyarakat,” jelas Yuliyanto.

Walikota juga menjelaskan bahwa jauh sebelum ada FKUB, di Kota Salatiga sudah ada Majelis Pimpinan Umat Agama Salatiga (PUASA). Forum tersebut merupakan bukti bahwa di Kota Salatiga sudah ada keinginan untuk hidup damai oleh para tokoh agama dan hal ini didukung oleh masyarakat.

Kegiatan ditutup dengan diskusi hangat yang dipandu oleh Kepala Kesbangpol Kota Salatiga, Agung Nugroho. Turut hadir dalam kegiatan tersebut antara lain; Forkopimda Kota Salatiga, FKUB Kota Salatiga, MUI Kota Salatiga, Kemenag Salatiga dan juga SKPD terkait. (sg)