Bangsa Eropa, khususnya Belanda memiliki keterkaitan sejarah yang sangat kuat di Indonesia. Hal ini dapat dilihat dari banyaknya jejak peninggalan sejarah berupa bangunan kuno bergaya eropasentris yang masih tegak berdiri, bahkan banyak diantarannya yang masih digunakan sebagai perkantoran, tak terkecuali di Salatiga.

Sebagai tempat yang pernah dijuluki sebagai “De Schoonste Van Midden Java” atau Kota Terindah di Jawa Tengah, Salatiga memiliki banyak bangunan peninggalan Belanda. Satu diantaranya adalah bangunan kuno yang dijadikan kantor pemerintah di jalan Letjend Sukowati. Bangunannya terdiri dari bangunan induk yang dilengkapi dengan ruang tamu dan ruang pertemuan yang khas nuansa eropa.

Gedung  yang dahulu milik Baron Van Hakeren Van De Sloot ini dijuluki oleh penduduk Salatiga sebagai Gedung Papak. Sebutan itu muncul mungkin karena wujud gedung itu papak atau rata dan berbeda dengan bangunan-bangunan berarsitektur Eropa lainnya di Salatiga.

Selain itu Gedung tersebut juga pernah disebut sebagai gedung Regent (bupati). Dalam perjalana sejarah pada masa revolusi , bangunan ini pernah difungsikan sebagai kantor Divisi RM Jatikusumo. Beliau adalah mantan Kepala Staff Angkatan Darat yang kemudian bertugas sebagai Duta Besar RI untuk Singapura. Selain itu pada jaman penjajahan Jepang, gedung ini juga pernah menjadi markas Kenpeitai dan Polisi Militer. Pada tahun 1950, Pemda Salatiga menyewa gedung ini untuk dipakai sebagai kantor dan pada akhirnya membeli gedung tersebut seharga Rp 300.000,00. Pada tahun 1952, Presiden pertama RI, Soekarno singgah di Salatiga dalam rangkaian kunjungan kerjanya ke Yogjakarta. Di Salatiga inilah Bung Karno bertemu untuk pertama kalinya dengan Ibu Hartini.

Dan saat ini Gedung Papak digunakan sebagai kantor Walikota Salatiga.