Bupati Sumedang Belajar Penanganan Covid-19 di Salatiga

Bupati Sumedang Dr. H. Dony Ahmad Munir,S.T.,M.M dan Wakil Bupati H. Erwan Setiawan,S.E masing-masing beserta istri datang langsung ke Kota Salatiga guna mengetahui strategi Salatiga dalam mengatasi pandemi Covid-19. Rombongan beserta Forkopimda Sumedang tersebut diterima oleh Wali Kota Yuliyanto dan istri beserta Forkopimda di Rumah Dinas Wali Kota , 19/11.
Bupati Sumedang Dr. H. Dony Ahmad Munir menyampaikan maksud ke Kota Salatiga selain menjalin silaturrahmi juga ingin mengetahui strategi pembangunan Kota Salatiga. “Saya mengetahui bahwa Kota Salatiga adalah kota paling toleran di Indonesia serta kota terbaik di Jawa Tengah dalam penanganan Covid-19. Kami ingin mengetahui, mendengar dan melihat langsung bagaimana Kota Salatiga menjalankan programnya. Saya pernah ke Salatiga sewaktu itu berkunjung ke Sekolah Qaryah Tahayyibah,” Bupati Sumedang menyampaikan maksud.
Dalam sambutan selamat datang, wali kota memaparkan strategi membangun kota dan strategi mengatasi pandemi covid-19. “Kami Kota Salatiga dalam membangun Kota kita utamakan membangun manusianya dengan sasaran 3 W, yaitu; wareg ekonomi berkecukupan, waras terkait dengan pemenuhan layanan kesehatan, wasis terkait dengan pendidikan, anggaran pendidikan Salatiga mendekati angka 40 persen dari APBD. Kami mengutamakan membangun jiwa dan raga masyarakat, ekonomi serta kesehatannya. Kalau masyarakat sejahtera maka diajak hal negatif tidak mau, bahkan diajak demo saja susah,” tutur wali kota.
“TNI dan Polri terus kita ajak untuk membangun, mulai dari jambanisasi, TMMD, bedah rumah, sampai resik-resik kota, termasuk dalam penanganan covid kita rangkul. Adapun kuncinya dari penanganan covid-19 di Kota Salatiga adalah transparansi, ada yang positif dan sembuh kita informasikan baik melalui media sosial FB, Youtube, dan media lainnya,” tambah Yuliyanto.
“Gugus tugas kita bentuk hingga tingkat RW, yang kita beri anggaran 15 per RW untuk penanganan covid. Dinas utamanya satpol juga berikan informati dan operasi di lapangan terkait protokol kesehatan. Tentunya tidak semudah yang kita bayangkan, butuh kesabaran, kekompakan, kerjasama. Pasar pun 900 pedagang diswab dan rapid tidak ada yang mengecewakan. Tapi sekarang ada libur 4 hari malah muncul klaster keluarga, karena berkunjung ke saudara di luar kota atau sebaliknya dan lupa menerapkan protokol kesehatan. Kebijakan hak tenaga kesehatan juga kita anggarkan. Lebih dari 8000 warga yang swab dan rapid,” pungkasnya.