Balaikota- Mendekati hari pelaksanaan Pemilu Presiden dan Pemilu Legislatif, peran Tokoh Agama sangat dibutuhkan guna menjaga Kota Salatiga sebagai Kota Tertoleran tetap kondusif, aman dan damai. Sebab, perbedaan pilihan yang dilatar belakangi oleh isu agama akhir-akhir ini sangat sensitif dan berpotensi memicu konflik horizontal. Diharapkan, Tokoh Agama mampu menjadi moderasi perbedaan dalam menyetarakan pemahaman cara beragama sesuai esensi dan substansi yang mengedepankan kedamaian, kerukunan dan kebersamaan.

“Di Tahun Politik kali ini, saya berharap Tokoh Agama dapat membantu Pemerintah dalam menciptakan situasi kondusif, aman, dan damai. Jangan sampai karena perbedaan pilihan, akhirnya memicu keretakan hubungan bertetangga atupun hubungan pertemanan. Saya yakin, Tokoh Agama, khususnya di BKGS ini mampu menjalankan peran secara maksimal dalam mensukseskan Pilpres dan Pileg yang damai, aman dan sejuk,” ujar Walikota Salatiga, Yuliyanto SE, MM, saat memberikan sambutan dalam kegiatan Sosialisasi Pileg dan Pilpres 2019 menuju Pemilu damai yang digagas oleh Badan Kerjasama Gereja-gereja Salatiga (BKGS), di Ruang Kaloka Gedung Setda Lantai IV, Senin (18/03) dengan Narasumber dari Kemenag, Polres, KPU dan Kesbangpol Kota Salatiga.

Walikota mengungkapkan, Pemilu tidak berlangsung dalam suasana yang statis, melainkan dipengaruhi oleh ruang lingkup sosial politik yang sangat dinamis, kompleks dan terkait satu sama lain. Karena itu fungsi fasilitasi, koordinasi dan dukungan harus menjadi perhatian bersama. Sinergitas dan keharmonisan seluruh pihak menjadi kunci utama dalam mewujudkan Pemilu yang berkualitas, sehingga menjadi titik pijak bersama penyelenggaraan pemilu mendatang.

Sementara itu, Ketua BKGS Drs. Purwanto, M.Pd menandaskan, Umat Kristiani Salatiga sebagai bagian dari Warga Negara Indonesia, terpanggil untuk menyukseskan program Pemerintah, utamanya Pemilu pada 17 April 2019 mendatang. BKGS ingin memastikan bahwa seluruh Umat Kristiani bisa berpartisipasi menggunakan haknya dengan benar, sesuai hati nurani, penuh kegembiraan dan tidak Golput, karena golput bukanlah tindakan yang tepat.

“Tensi politik akhir-akhir ini semakin hangat, oleh karena itu kami mengajak gereja-gereja agar tidak terlibat dalam kegiatan yang cenderung distruktif. Kegiatan Sosialisasi Pilpres dan Pileg ini sebagai upaya pendidikan politik bagi gereja. Gereja tidak berpolitik praktis, namun perlu pendidikan politik sebagaimana fungsi-fungsi gereja bagi kehidupan Umat Kristiani,” papar Purwanto.