Salatiga – 96% penderita TBC di kota Salatiga bisa sembuh dengan penanganan yang baik dan berkelanjutan. Hal ini penting terlebih dengan penanganan secara teratur, terkontrol dan diobati, penderita dapat disembuhkan.

Wakil walikota Salatiga, Muh Haris SS Msi mengatakan bahwa TBC merupakan penyakit yang penyebarannya harus dicegah. Karena hal itu untuk mewujudkan Indonesia dan Salatiga sehat dari TBC.  Dirinya juga mengajak semua masyarakat untuk bisa menjaga kesehatan diri, sehat untuk sekarang dan besuk dan selama-lamanya.

“ Data dari DKK kota Salatiga terlaporkan sebanyak 348 kasus TBC di kota ini dengan  96% pasien bisa diobati. Hal ini harus diteruskan dan dijaga bersama, ” Ajaknya saat peringatan Hari Tuberkulosis Sedunia, di Halaman Poli Respira RS Paru dr. Ario Wirawan Salatiga, Jumat (22/3).

Menurutnya, Dirinya selalu mengajak masyarakat kota Salatiga untuk bersama-sama dalam penanganan kasus TB tersebut. Agar upaya ini bisa memerangi  kasus penanganan TBC di kota Salatiga.

“ Kegiatan ini sangat baik untuk memberikan pemahaman kembali terhadap penyakit TBC dengan menemukan penderita dan obati sampai sembuh. Pihaknya juga akan terus mengandeng beberapa pihak agar penanganannya bisa cepat dan baik,” Tandasnya.

Farida Widayati, M. Kes selaku Direktur RS Paru dr. Ario Wirawan Salatiga menjelaskan bahwa Indonesia harus bebas TBC tahun 2035 mendatang. Menurutnya, masih ada 16 tahun lagi untuk memerangi TBC. Peringatan TBC sedunia diperingati setiap 24 Maret. Hal ini mengingatkan bahwa penyakit TBC masih menjadi masalah kesehatan di seluruh dunia. Indonesia adalah penyumbang TBC nomor 3, setelah India, dan China.  Tahun 2018 ini, Menurut WHO TBC masih masuk 10 besar kematian tertinggi di dunia dan penyebab infeksi tunggal.

“ Dari laporan global report TV tahun 2018, diperkirakan sepertiga penduduk dunia telah terinfeksi 10 juta pasien baru dan 1,3 juta kematian dari TBC ini. Sedangkan di Indonesia penderitanya adalah 80 % kelompok usia diatas 14 tahun yang merupakan usia produktit,” Ujarnya

Farida menambahkan bahwa selain merugikan secara ekonomis, penderita TBC  juga mendapatkan stigma sosial bahkan sampai dikucilkan di masyarkat. Namun upaya perbaikan dengan penanganan TBC harus terus dilakukan dengan baik.

“ Penanganan TBC harus kita perjuangkan dan eliminasi penyebarannya. Kita temukan dan obati sampai sembuh,” Bebernya.

Lanjutnya, Kota salatiga juga akan mengacu pada kebijakan yang dilakukan Kementrian Kesehatan RI, yang telah menyusun penanganan TBC ke depan. Melalui peningkatan inovasi pelayanan dan penguatan kebijakan serta kemitraan dalam pengendalian TBC kedepannya dengan baik.

Peringatan TBC di RS Paru dr. Ario Wirawan Salatiga kali ini, ditandai dengan penandatangan komitmen forum komunikasi pimpinan daerah, masyarakat dan karyawan RS Paru dr. Ario Wirawan Salatiga, diteruskan dengan senam bersama di halaman tersebut.