Balaikota – Pemerintah kota Salatiga mengapresiasi terhadap profesi modin di kota Salatiga. Profesi modin dinilai penting, karena memegang tanggung jawab terhadap kegiatan ritual agama islam dalam masyarakat.

“ Keberadaan modin dalam bermasyarakat sangat penting dan dibutuhkan  karena dipercaya untuk memimpin berbagai kegiatan ritual agama islam, selain itu membantu pencatatan pernikahan serta membantu kelurahan dan kecamatan dalam bidang keagamanan dan kemasyarakatan,” Ujar Kabag Kesejahteraan Rakyat Setda Kota Salatiga Drs. BPH Pramusinta, M.Kes mewakili Walikota Salatiga saat memberikan sambutan pada kegiatan pembinaan dan realisasi bantuan operasional modin se-Kota Salatiga Tahun 2018, di Ruang Kalitaman Lantai 2, Gedung Setda kota Salatiga, Rabu (9/5).

Menurutnya, profesi modin mempunyai tanggungjawab yang besar yakni sebagai imadudin (orang yang dipercaya) untuk melakukan syariat islam yang sesuai dengan agama islam dan rosul. Berkaitan dengan itu, pemerintah kota Salatiga memberikan apresiasi dan penghargaan  terhadap para modin atas tugas, tanggungjawab dan pengabdiannya tersebut. Para modin ini berasal dari kecamatan Sidorejo sejumlah 24 orang, kemudian 21 orang dari kecamatan Tingkir, 22 orang dari kecamatan Argomulyo lalu 21 orang dari  kecamatan Sidomukti.

“ Ada 88 orang modin yang menerima bantuan ini. Masing-masing akan menerima Rp. 1.275.000,00 setelah dipotong pajak. Diakui, bahwa pemberian ini belum memadai namun upaya perbaikan  akan terus dilakukan,”  Imbuh Pramusinta.

Lanjutnya, Kata dia pemberian bantuan atau insentif tahun 2018 mengalami kenaikan dibanding tahun sebelumnya dan teknis penyalurannya juga sedikit berbeda karena pada tahun ini, menggunakan sistem non tunai yakni transfer melalui bank.

“ Saya himbau pemberian bantuan ini bisa digunakan dengan baik dan tepat sasaran. Sehingga pelayanan modin kepada masyarakat bisa lebih baik lagi sesuai regulasi yang ada,” Pungkasnya.

Selain pemberian bantuan kepada modin tersebut, para modin ini juga diberikan pengetahuan dalam hal pemulasaran jenazah pengidap HIV/AIDS dilihat dari prespektif syariat dan medis dengan menghadirkan dua narasumber yakni dr. Tasfiyah Sri Prihati dari Dinkes kota Salatiga dan Ketua FKUB Kota Salatiga, KH.Noor Rofik.