“Kira-kira media apa yang anda gunakan untuk mendapatkan konten berita, di gawai anda?”
Lewat media online atau koran?,”tanya Sekda.

“Online Bapak, lewat internet,”jawab peserta.

Pertanyaan tersebut dilontarkan oleh Sekda kota Salatiga, Drs. Fakruroji saat membuka Pelatihan Jurnalistik bagi SMA/SMK di Pendopo Pakuwon Gedung Setda Kota Salatiga, Selasa(27/8).

Menurutnya menjadi seorang jurnalis tidak hanya mewartakan berita saja ke dalam sebuah tulisan dan di informasikan ke masyarakat. Namun belajar jurnalistik  itu harus bisa membuat berita dengan baik, lengkap, akurat dan runut.

“Kegiatan semacam ini saya kira sangat berguna untuk siswa siswi SMA/SMK. Jurnalistik ini menjadi sebuah metode  untuk mengembangkan logika dan  karakter diri. Selain itu, harus bisa berfikir kreatif, percaya diri dan obyektif,”jelasnya.

Dari data pada tahun 2017 ada sebuah penelitian terhadap 1200 responden usia 7 – 21 tahun di Jawa dan Bali, dan memperoleh data yang signifikan yakni untuk 83,6 persen responden memperoleh informasi berita dari internet, kemudian  14,4 persen dari televisi, dan 1,7 persen dari media lain.

“Data ini menunjukkan bahwa setiap menit, detik anda membuka internet, media online. Karena apa yang diterima  untuk generasi Z sekarang adalah informasi yang cepat dan instan. Namun yang perlu diingat adalah bisa memilah mana berita yang baik dan tidak baik,”ungkapnya.’

Orang nomor satu di birokrasi kota Salatiga ini mengajak untuk bijak dalam melihat, menginformasikan sebuah berita. Kontennya harus dicermati dan dipahami terlebih dahulu agar tidak merugikan nantinya.

“Ilmu yang didapatkan agar dapat  dipergunakan dengan baik, jadilah orang bermanfaat,”pungkasnya.

Aloysius jarot nugroho sebagai salah satu narasumber mengatakan bahwa sebuah berita itu bisa dikategorikan menjadi beberapa kategori foto jurnalistik. Seperti spot news, general news, features, daily life/keseharian, sport/ olahraga. Dan masing-masing ini mempunyai kekhususan tersendiri dalam pengambilan foto untuk jurnalistik.

“Jangan melewatkan sebuah moment yang ada. Karena sebuah peristiwa itu akan terus bergulir dan bagaimana kita untuk mengabadikan peristiwa tersebut dengan baik,”kata pewarta foto LKBN Antara.

Sementara itu menurut Dewi kartika Sari SSos MIKom seorang akademisi dari UKSW Salatiga menjelaskan bahwa untuk menjadi seorang yang paham akan media online, pelajar  harus mengerti dan memahami terlebih dulu media online tersebut seperti facebook, tweet, instagram, youtube, blog, dll.

“Kalian harus paham dulu, sehingga media sosial tersebut bisa digunakan dengan baik dan tidak melanggar nantinya,”bebernya.

Menurutnya, untuk bisa menjadi seorang jurnalis pada media online seperti website, blog, media sosial media atau lainnya. Sama seperti Jurnalistik konvensional, namun jurnalistik online juga harus menaati kode etik jurnalis. Bedanya hanya pada media yang digunakan untuk menyajikan berita.

Kegiatan ini digelar selama 3 hari mulai tanggal 26-29 Agustus 2019. Diikuti oleh 60 orang dari SMA/SMK se kota Salatiga. Materi yang disampaikan meliputi penulisan jurnalistik, media online, video jurnalistik, fotographi jurnalistik, public speaking, video blog.