Tingkir- Eksistensi dalam menguri-nguri kebudayaan jawa merupakan tanggung jawab kita bersama sebagai generasi penerus bangsa. Tidak hanya mengenali saja, melainkan harus terus peduli untuk terus   melestarikan kebudayaan tersebut.

Arahan ini disampaikan oleh Sri Danujo, SE selaku kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Salatiga yang mewakili Walikota Salatiga saat membuka gebyar seni sekolah inklusi bakat istimewa di  Taman Tingkir, Kecamatan Tingkir Kota Salatiga, Sabtu (5/5). Menurutnya  dalam hal berkesenian kita harus mau menjaga, menghargai dan melestarikan budaya jawa di setiap kesempatan. Tidak hanya konsisten di pendidikan formal saja, melainkan kecintaan terhadap budaya jawa perlu dilakukan sejak dini, agar kita sebagai generasi penerus terus  sadar akan kekayaan budaya yang kita punya.

“ Saya apresiasi kegiatan gebyar kesenian ini bisa dilaksanakan, karena di sini anak-anak bisa meningkatkan kecintaannya terhadap budayanya, berkesenian  khususnya budaya jawa. Merekalah yang  nanti akan menjadi penerus bangsa,” Kata Danujo.

Lanjutnya, dirinya yakin kalau kegiatan serupa sering digelar oleh sekolah maupun masyarakat maka kebudayaan dan kesenian yang adiluhung ini akan tetap subur dan dikenali oleh anak-anak sekolah sampai kapanpun.

“ Ini harus terus dilanjutkan, guna memupuk kepekaan anak-anak SMP khususnya dalam hal berkesenian jawa,” Tambahnya.

Sementara itu, Ngadiman selaku Plt Kepala Sekolah SMPN 8 Salatiga mengatakan bahwa kegiatan ini adalah bentuk bukti diri atas kemampuan dan kreatifitas anak yang memiliki bakat dalam hal berkesenian. Menurutnya kebudayaan jawa, harus terus dilestarikan. Bakat dan jiwa seni anak juga harus dipupuk sejak dini agar kebudayaan ini bisa tetap eksis dan tidak tergerus oleh kemajuan zaman.

“ Ini sangat bagus untuk ajang kreatifitas anak. Mereka bisa tampil dan menunjukkan eksistensinya sebagai pelestari seni,”  Tuturnnya.

Eka mewakili salah satu penari Gambyong dari SMPN 8 mengakui bahwa mengikuti gelar seni ini akan menambah pengalaman baginya untuk bisa menunjukkan bakatnya dalam menari. Menurutnya untuk menari diperlukan latihan untuk mengasah kemampuan dalam gerakannya. Hal ini dijadikannya sebagai momentum penting  bukti kecintaanya terhadap pelestarian budaya jawa.

“ Saya senang dan bangga bisa menari disini, apalagi bersama teman-teman yang suka menari. Meskipun latihan hampir setiap hari dalam sebulan, namun saya terus melakukannya, karena saya suka menari,” Ucap Eka.

Gebyar seni ini digelar bekerjasama dengan Disbudpar Kota Salatiga, dengan pertunjukan pembuka yakni tarian gambyong yang dilakukan secara massal oleh 450 penari yang notabene adalah para pelajar putri dari SMPN 8 Salatiga. Tari gambyong ini dilakukan di sepanjang trotoar yang ada di dalam taman tingkir tersebut, perpaduan busana jawa dan gelaran yang halus menghasilkan sebuah gerakan serempak yang sangat apik.  Tidak hanya  itu saja, pertunjukan kethoprak juga akan ditampilkan oleh murid-murid SMPN 8 Salatiga di malam harinya.